Tiga minggu setelah sesi kedua, aku menelepon ibu.
Bukan karena sudah sepenuhnya siap. Lebih karena Bu Hesti sudah dua kali bertanya kapan aku rasa siap, dan setiap kali aku menjawab belum tentu, ada sesuatu yang mengingatkanku bahwa belum tentu bisa bertahan jadi alasan selamanya.
Aku menelepon dari sudut lorong asrama yang paling sepi, jam tujuh malam, ketika sebagian besar anak-anak sudah kembali ke kamar setelah makan malam. Dinding koridor yang dingin di punggung, lantai yang terasa familiar di bawah kaki, dan suara dering yang berulang tiga kali sebelum tersambung.
"Halo, Shei?" Suara ibu. Nada yang selalu naik setengah nada ketika aku yang menelepon, seolah setiap panggilan dari anak-anak di asrama punya kemungkinan untuk menjadi berita baik atau berita buruk, dan ia tidak pernah sepenuhnya tahu mana yang akan datang.
"Halo, Bu. Lagi sibuk?"
"Nggak, lagi di dapur. Ada apa?"
Aku menarik napas. Formula berbeda dari biasanya — bukan menekan jari ke paha, tapi napas dalam yang masuk ke perut, bukan hanya ke dada. Teknik yang Bu Hesti ajarkan minggu lalu.
"Bu, aku mau cerita sesuatu. Bukan hal buruk," aku menambahkan cepat, karena aku bisa membayangkan ekspresinya ketika kalimat aku mau cerita sesuatu keluar dari mulut anak yang tinggal di asrama. "Tapi penting."
Suara dari dapur berhenti. Ada bunyi kompor yang dimatikan.
"Ya? Cerita."
Aku menceritakannya tidak berurutan. Tentang tremor. Tentang insomnia. Tentang pagi-pagi yang terlalu lama sebelum bisa bergerak. Tentang Bu Hesti dan sesi-sesi yang sudah berlangsung. Tentang fakta bahwa aku sudah meminta bantuan dan sedang dalam proses mencari bantuan yang lebih spesifik.
Ibu tidak menginterupsi.
Itu sendiri adalah sesuatu yang tidak kuduga.
Ketika aku selesai, ada hening yang cukup panjang — bukan hening yang kosong, tapi hening yang terisi dengan sesuatu yang tidak bisa kuidentifikasi dari seberang telepon. Aku menunggu, dengan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya dan tangan yang lebih dingin dari biasanya.
"Shei," kata ibu akhirnya. Suaranya berbeda dari yang biasanya — lebih pelan, lebih berhati-hati, seperti ia sedang memilih setiap kata dengan tangan sebelum meletakkannya di kalimat. "Kenapa nggak bilang dari dulu?"