Sudah tiga minggu sejak malam ketika Nisa melihat kasur kosong dan menyebut nama Auristella.
Kami tidak pernah membicarakannya lagi secara langsung.
Tapi ada hal-hal yang tidak perlu dibicarakan secara langsung untuk diselesaikan — atau tidak diselesaikan, tapi setidaknya diakui keberadaannya. Kami masih berbagi kamar, masih sarapan bersama di hari-hari yang jadwalnya kebetulan sama, masih bertukar informasi tentang tugas atau pengumuman yang satu mungkin terlewat. Kehidupan sehari-hari terus berlangsung di lapisan yang terlihat.
Di lapisan yang tidak terlihat, ada jeda itu. Jeda setengah detik yang sudah semakin pendek belakangan ini, tapi belum sepenuhnya hilang.
Sabtu sore, kamar sepi. Wulan — karena kami sudah pindah ke kamar 312 — sedang keluar untuk kegiatan ekskul. Nisa duduk di kasurnya dengan buku pelajaran yang belum dibuka, cara orang yang berniat belajar tapi belum menemukan momentum. Aku di meja belajar dengan laptop yang juga belum sepenuhnya dibuka.
Ada hening yang nyaman dan tidak nyaman sekaligus.
"Shei."
Aku menoleh. Nisa sudah menutup bukunya — atau lebih tepatnya, meletakkannya di sisi kasur dengan cara orang yang sudah memutuskan bahwa belajar tidak akan terjadi hari ini.
"Kamu masih ke Bu Hesti?"
Aku tidak langsung menjawab. Bukan karena tidak tahu jawabannya, tapi karena pertanyaan itu punya lapisan-lapisan yang perlu kuperiksa sebelum memilih lapisan mana yang tepat untuk dijawab.
"Iya," kataku akhirnya. "Sudah tiga sesi."
Nisa mengangguk. Ada sesuatu di wajahnya yang tidak sering kulihat di sana — sesuatu yang terlihat seperti lega yang datang terlambat, atau mungkin rasa bersalah yang sudah terlalu lama disimpan di tempat yang salah.
"Aku minta maaf," kata Nisa pelan.