Sudah tiga minggu sejak malam ketika Nisa melihat kasur kosong.
Kami tidak pernah membicarakannya lagi secara langsung — tapi ada hal-hal yang tidak perlu dibicarakan secara langsung untuk diakui keberadaannya. Kami masih berbagi kamar di 214 sebelum pindah, masih sarapan bersama di hari-hari yang jadwalnya kebetulan sama, masih bertukar informasi tentang tugas atau pengumuman. Kehidupan sehari-hari terus berlangsung di lapisan yang terlihat.
Di lapisan yang tidak terlihat, ada jeda itu. Jeda setengah detik yang sudah semakin pendek belakangan ini tapi belum sepenuhnya hilang — cara Nisa yang sedikit lebih hati-hati dalam menatapku, cara aku yang sedikit lebih sadar ketika berbicara di depannya. Keseimbangan baru yang belum sepenuhnya menemukan bentuknya.
Sabtu sore. Kamar 312 sepi — Wulan sedang keluar untuk ekskul. Nisa duduk di kasurnya dengan buku pelajaran yang belum dibuka, cara orang yang berniat belajar tapi belum menemukan momentum. Aku di meja belajar dengan laptop yang juga belum sepenuhnya dibuka. Ada hening yang nyaman dan tidak nyaman sekaligus — jenis hening yang ada di antara dua orang yang sama-sama tahu ada sesuatu yang menunggu tapi tidak ada yang mau menjadi yang pertama memulai.
Hari ini Nisalah yang pertama.
"Shei."
Aku menoleh. Ia sudah menutup bukunya — atau lebih tepatnya meletakkannya di sisi kasur dengan cara orang yang sudah memutuskan bahwa belajar tidak akan terjadi hari ini.
"Kamu masih ke Bu Hesti?"
"Iya." Aku memutar kursi sedikit ke arahnya. "Sudah tiga sesi."
Nisa mengangguk. Ada sesuatu di wajahnya yang tidak sering kulihat di sana — sesuatu yang terlihat seperti lega yang datang terlambat, atau mungkin rasa bersalah yang sudah terlalu lama disimpan di tempat yang tidak nyaman.
"Aku minta maaf," katanya pelan.
"Untuk apa?"
"Waktu itu." Ia menatap tangannya sendiri. "Waktu kamu cerita tentang program Kak Dira. Aku bilang kamu overthinking."
Aku diam.
"Dan sebelum-sebelumnya juga," lanjut Nisa. "Kayak ada momen di mana aku bisa dengerin lebih, tapi aku milih yang lebih simpel. Yang lebih gampang direspon."
Ada beberapa kalimat yang tersedia di dalam kepalaku — beberapa yang memaafkan terlalu cepat, beberapa yang lebih jujur dari yang nyaman, beberapa yang ada di antaranya. Aku tidak langsung memilih salah satunya. Membiarkan kalimat Nisa ada dulu sebelum direspons, dengan cara yang belum bisa kulakukan beberapa bulan lalu — cara orang yang tidak lagi harus langsung mengisi setiap hening dengan sesuatu yang meyakinkan.