Ruang praktik Bu Dewi berbeda dari ruang BK.
Ini di luar sekolah — gedung kecil di jalan yang tenang, dengan papan nama kecil di depan yang tidak terlalu mencolok, tanaman di dalam pot yang terlihat dirawat dengan sungguh-sungguh. Jenis tempat yang tidak terlihat seperti sesuatu yang penting dari luar tapi di dalamnya ada sesuatu yang terasa berbeda dari udara biasa — lebih pelan, lebih terkendali, seperti tempat yang sudah lama menjadi wadah untuk hal-hal yang tidak punya wadah lain.
Aku datang bersama ibu.
Itu sendiri sudah berbeda dari semua sesi sebelumnya. Semua percakapan dengan Bu Hesti aku lakukan sendiri — semua keputusan kecil aku buat sendiri, semua langkah aku tempuh sendiri. Tapi ada sesuatu tentang duduk di kursi tunggu dengan ibu di sebelahku yang tidak bisa dikategorikan sebagai buruk atau baik, hanya berbeda. Ibu yang tidak banyak bicara di mobil tadi, yang hanya sesekali melirikku dari sudut mata dengan cara yang tidak bisa kuartikan tapi tidak terasa seperti penilaian.
"Nervous?" tanyanya di kursi tunggu.
"Sedikit."
Ibu mengangguk. Tidak berkata seharusnya tidak perlu nervous, tidak berkata kalau kamu nervous berarti ada yang salah. Hanya mengangguk — cara orang yang menerima informasi dan memilih untuk hanya diam bersamanya.
Itu cukup.
Bu Dewi berusia sekitar empat puluhan, dengan cara bicara yang langsung tapi tidak terasa menghakimi. Ruangan praktiknya memiliki dua kursi nyaman berhadapan, tanpa meja besar di antara — cara yang berbeda dari yang aku bayangkan sebelumnya, lebih seperti percakapan dan kurang seperti pemeriksaan.
Sesi dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan konkret.
Bukan pertanyaan tentang apakah kamu bahagia atau apakah hidupmu baik-baik saja — pertanyaan yang selama ini selalu terasa seperti meminta jawaban yang sudah tahu ukurannya. Tapi pertanyaan yang berbasis fakta: berapa jam rata-rata tidurmu? Sejak kapan tremor itu ada? Apakah ada situasi tertentu yang membuatnya lebih intens? Kapan terakhir kali kamu merasa benar-benar beristirahat?
Ada sesuatu tentang menjawab pertanyaan dengan fakta yang terasa seperti berdiri di tanah yang lebih solid — fakta tidak perlu divalidasi, tidak perlu diukur apakah cukup besar untuk disebutkan. Fakta hanya perlu dilaporkan. Dan aku tidak tahu sampai hari itu bahwa ada jenis kelegaan tersendiri dalam berbicara tentang diri sendiri seperti melaporkan fakta, tanpa terlebih dulu harus meminta izin untuk merasakannya.
Lalu Bu Dewi mengajukan pertanyaan yang tidak kuduga.
"Kamu ingat kapan terakhir kali melakukan sesuatu hanya karena mau — bukan karena perlu, bukan karena ada yang menunggu hasilnya?"