Teman dari Luka yang Sama

aether.writes
Chapter #31

31. Tentang Keluarga yang Nyata

Liburan semester kali ini aku pulang dengan cara yang berbeda.

Bukan persiapan yang berbeda — koper yang sama, kereta yang sama, stasiun yang sama. Yang berbeda adalah apa yang aku bawa di dalam kepala dan dada: bukan kumpulan formula dan strategi bertahan, tapi sesuatu yang lebih dekat ke kesediaan. Kesediaan untuk hadir, untuk melihat, untuk membiarkan sesuatu menjadi rumit kalau memang rumit.

Ibu menjemput di stasiun.

Itu sendiri berbeda — biasanya aku naik ojek dari stasiun ke rumah, bukan karena ibu tidak mau menjemput, tapi karena aku tidak pernah memintanya dan ia tidak pernah menawarkan. Tapi kali ini ia mengirim pesan dua hari sebelum: Ibu jemput ya. Singkat, tanpa penjelasan tambahan. Dan aku menjawab: Oke, makasih, Bu.

Di mobil, kami berbicara.

Bukan percakapan besar — tentang perjalanan, tentang cuaca, tentang kabar adik sepupu yang katanya mau masuk SMA. Tapi ada yang berbeda tentang percakapan kecil ini: aku tidak memantau setiap kalimatku untuk memastikannya tidak terlalu banyak, tidak terlalu sedikit, tidak terlalu merepotkan. Aku hanya berbicara.

Rumah terasa sama. Bau masakan dari dapur, suara televisi yang dimatikan ketika kami masuk, Papa yang keluar dari ruang kerja dengan kacamata yang masih di hidung.

"Udah sampai," katanya. Kalimat yang sama seperti selalu. Tapi cara ia mengatakannya sore itu — ada sesuatu yang sedikit berbeda di dalamnya, sesuatu yang aku tidak bisa tunjuk tapi bisa rasakan.

"Udah, Pa."

Ia mengangguk. Lalu, sebelum kembali ke ruang kerja:

"Makan malam bareng ya nanti."

Lihat selengkapnya