Ada sesuatu yang Bu Dewi katakan di sesi keenam yang terus aku pikirkan setelahnya.
"Pemulihan bukan garis lurus," katanya. "Bukan dari sakit ke sembuh tanpa belok-belok. Lebih seperti spiral — kamu mungkin akan melewati beberapa titik yang terasa seperti sudah pernah ada di sana. Tapi kalau dilihat dari atas, spiralnya bergerak ke atas juga."
Aku memikirkan itu banyak.
Karena ada hari-hari yang masih berat. Ada pagi-pagi di mana menatap langit-langit selama dua belas menit sebelum bisa bergerak — bukan dua puluh, kemajuan, tapi masih dua belas. Ada momen-momen di keramaian yang masih menguras lebih dari yang seharusnya. Ada gelombang kecil dari hal-hal lama yang datang tidak diundang: perasaan bahwa aku terlalu banyak, perasaan bahwa ada yang salah dengan cara aku bekerja, perasaan bahwa semua yang sedang kulakukan tidak cukup.
Tapi ada juga hari-hari lain.
Ada hari-hari di mana aku bangun dan tubuh menyala seperti mesin yang sudah dipanaskan dengan benar — bukan tergesa, tapi siap. Ada percakapan yang mengalir tanpa aku harus menghitung setiap katanya dulu. Ada momen di perpustakaan ketika buku yang kubuka benar-benar kubaca, bukan hanya dipegang sambil pikiran ada di tempat lain. Ada tawa yang datang bukan karena ada yang mencontohkan dulu.
Dan ada Sabtu pagi ini.
Aku duduk di teras asrama dengan secangkir teh yang dipinjam dari dapur bersama — teh celup biasa, bukan yang istimewa — melihat halaman asrama yang masih sepi karena hari masih pagi dan kebanyakan anak-anak masih tidur.
Rumput di halaman basah oleh embun. Pohon di sudut halaman ada burung yang datang dan pergi dengan cara yang tidak peduli apakah ada yang memperhatikan atau tidak. Langit Malang pagi itu biru dengan cara yang berbeda dari putih pucat yang kuingat dari foto keluarga — biru yang tegas, yang sudah memutuskan mau jadi apa.
Aku duduk di sana tanpa Auristella.
Tanpa Hyeon Jae.
Tanpa siapapun selain aku dan secangkir teh dan pagi yang berlangsung dengan cara pagi berlangsung.
Ada kesepian di sana — tentu saja ada, karena manusia tidak dirancang untuk sendirian sepenuhnya, dan kesepian bukan sesuatu yang hilang hanya karena sudah mulai sembuh. Tapi kesepian ini berbeda jenisnya dari kesepian yang dulu — bukan kesepian yang terasa seperti bukti bahwa ada yang salah denganmu, tapi kesepian yang terasa seperti ruang. Ruang yang bisa diisi kapan perlu dan dibiarkan kosong kapan juga perlu.
Ponselku bergetar.
Pesan dari ibu: Kalau akhir bulan pulang, kasih tau ya. Papa mau masak bareng.
Aku membacanya dua kali.
Papa mau masak bareng — kalimat yang tidak pernah ada sebelumnya. Papa yang tidak memasak selain menggoreng telur. Papa yang bahasanya adalah nilai dan prestasi dan anggukan yang berat. Sekarang Papa mau masak bareng.
Sesuatu bergerak di dada. Sesuatu kecil, tidak dramatis, tidak meledak. Hanya bergerak.
Aku mengetik balas: Oke, Bu. Akan dikabarin.
Lalu aku menyimpan ponsel ke saku.
Dan melanjutkan teh.