Teman dari Luka yang Sama

aether.writes
Chapter #33

33. Relaps

Ada yang perlu diluruskan tentang pemulihan.

Ia tidak berjalan lurus. Bu Dewi sudah mengatakannya, dan aku sudah mendengarnya, dan aku sudah mengangguk dengan cara yang meyakinkan ketika ia berkata bahwa spiral itu juga bergerak ke atas. Tapi ada jarak antara mengerti sesuatu secara intelektual dan mengalaminya secara fisik — jarak yang tidak bisa dilompati dengan pemahaman saja, yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan melewatinya.

Aku berjalan melewatinya pada minggu kedua bulan ini.

Tidak ada satu kejadian yang memicunya. Tidak ada Kak Dira yang memanggil lagi, tidak ada foto keluarga dari memori ponsel, tidak ada percakapan yang menancapkan sesuatu yang baru. Yang ada adalah akumulasi — beberapa hari di mana tidur tidak cukup, tugas yang menumpuk dengan cara yang terasa seperti dinding, satu komentar kecil dari seorang guru tentang esai yang kutulis bahwa strukturnya kurang sistematis, dan sesuatu tentang kata-kata itu yang mengaktifkan sesuatu lama.

Kurang sistematis.

Dua kata yang dalam konteks lain tidak berarti apa-apa. Dalam konteks ini, dua kata yang membuka pintu ke lemari paling lama: kamu tidak cukup baik. Kamu tidak pernah cukup baik. Semua yang sudah dikerjakan tidak cukup untuk mengubah fakta mendasar bahwa ada yang kurang dengan cara kamu bekerja dan berpikir dan ada.

Pikiran itu datang dan aku tidak bisa menghentikannya.

Yang berbeda dari sebelumnya adalah aku tahu nama pikiran itu sekarang. Bu Dewi pernah membicarakan cognitive distortion — cara pikiran memelintir informasi menjadi bentuk yang paling menyakitkan. Aku bisa menyebutnya: overgeneralisasi, kesimpulan yang melompat dari satu data poin ke kesimpulan universal. Aku tahu itu. Aku tahu bahwa esai yang strukturnya kurang sistematis tidak sama dengan aku yang tidak cukup baik.

Tapi mengetahui nama penyakitnya tidak selalu cukup untuk menyembuhkannya.

Tiga hari pertama berjalan dengan cara yang familiar dan menyesakkan sekaligus: pagi-pagi yang panjang, kantin yang terlalu ramai, tugas yang dibuka dan ditutup tanpa diisi. Tangan yang lebih sering gemetar dari biasanya. Tidur yang datang terlambat dan pergi terlalu cepat.

Pada hari keempat, aku mengirim pesan kepada Bu Dewi.

Bukan pesan panjang. Hanya: Bu Dewi, apakah bisa minta jadwal lebih cepat minggu ini? Ada yang berat.

Lihat selengkapnya