Teman dari Luka yang Sama

aether.writes
Chapter #36

36. Kelas Bahasa Indonesia

Guru Bahasa Indonesia semester ini adalah Bu Rani — perempuan berusia awal empat puluhan yang cara mengajarnya berbeda dari guru-guru yang pernah ada di hidupku.

Cara berbedanya adalah ini: ia tidak pernah mengomentari nilai tanpa mengomentari prosesnya. Ketika mengembalikan esai, ia tidak hanya menulis angka di pojok kanan atas — ia menulis catatan kecil di margin, tentang kalimat yang bekerja dengan baik, tentang argumen yang bisa dikembangkan, tentang pilihan kata yang tepat atau yang bisa lebih tepat lagi.

Itu sendiri bukan hal yang sangat luar biasa. Banyak guru yang memberikan feedback tertulis.

Yang berbeda adalah cara ia membicarakannya di kelas.

Bukan dengan membacakan esai terbaik sebagai contoh — cara yang selalu membuatku merasa entah bangga kalau esaiku yang dibaca atau tidak terlihat kalau bukan milikku. Ia membicarakannya dengan cara yang lebih merata: mengambil satu kalimat dari satu esai, tanpa menyebut nama penulisnya, dan mendiskusikan apa yang membuatnya bekerja atau tidak.

Dalam diskusi semacam itu, ada sesuatu yang berubah di cara aku mendengarkan feedback.

Di semester-semester sebelumnya, feedback yang bukan pujian langsung selalu aku terjemahkan ke dalam bahasa yang sama: ada yang kurang denganmu. Kalimat yang kurang sistematis berarti kamu kurang sistematis. Argumen yang perlu dikembangkan berarti kamu tidak cukup dalam. Pilihan kata yang bisa lebih tepat berarti kamu tidak cukup cermat.

Sekarang, secara perlahan, terjemahan itu mulai berubah.

Kalimat yang kurang sistematis berarti kalimat ini perlu diubah. Bukan aku yang perlu diubah secara fundamental — hanya kalimat ini, dalam esai ini, untuk tujuan ini.

Perbedaan yang kecil tapi nyata.

Bu Rani mengembalikan esai tentang dampak media sosial pada kesehatan mental remaja — topik yang aku pilih dengan alasan yang sudah jelas. Di sudut kanan atas: 87. Di margin, tulisan tangan kecil yang sedikit miring: Analisis kamu tajam dan personal tanpa kehilangan objektivitas. Kalimat terakhir paragraf keempat adalah kalimat terbaik di esai ini. Kembangkan lebih.

Lihat selengkapnya