Seminar nasional psikologi remaja berlangsung di aula universitas setempat pada hari Sabtu.
Aku mendaftar dua minggu sebelumnya, mengisi formulir yang Bu Hesti berikan, dan tidak menceritakannya kepada siapapun kecuali Wulan yang ada di kamar ketika aku mengisi formulir dan bertanya dengan nada penasaran ringan: daftar apa?
"Seminar psikologi," kataku.
"Oh." Wulan mengangguk. "Boleh ikut?"
Aku menatapnya.
"Kamu juga mau?"
"Aku baru mulai ke Bu Hesti. Mungkin bagus untuk tambah perspektif." Ia mengangkat bahu. "Kalau kamu nggak mau ditemenin nggak apa-apa."
"Boleh ikut," kataku.
Jadi kami pergi berdua, Wulan dan aku, dengan transportasi umum yang membutuhkan satu kali ganti bus dan perjalanan yang cukup lama untuk percakapan kecil yang tidak memerlukan kedalaman tertentu. Wulan berbicara tentang kakaknya yang baru menikah, tentang menu makan siang yang berubah di asrama, tentang buku yang sedang dibacanya. Aku mendengarkan dan menimpali dengan cara yang sudah lebih natural dari setahun lalu.
Seminar itu dihadiri sekitar dua ratus orang — campuran siswa SMA, mahasiswa, beberapa orang dewasa yang sepertinya datang untuk alasan profesional. Ada tiga pembicara yang bergantian sepanjang hari, dengan tema yang berbeda-beda tapi saling terhubung: kesehatan mental remaja, stigma dalam mencari bantuan profesional, dan cara mendukung orang-orang terdekat yang mungkin sedang berjuang.
Pembicara ketiga adalah psikolog muda yang pernah bekerja langsung dengan remaja di asrama sekolah. Ia berbicara tentang sesuatu yang langsung mendarat:
"Salah satu pola yang paling sering saya lihat," katanya dari podium, "adalah remaja yang sangat pandai berfungsi. Yang nilainya bagus, yang aktif di kegiatan sekolah, yang terlihat dari luar seperti orang yang punya segalanya beres. Dan persis orang-orang itu yang paling sering melewatkan deteksi dini karena mereka sangat terlatih menyesuaikan diri dengan ekspektasi lingkungan."