Ada suara-suara lain yang mulai kudengar sekarang.
Bukan suara dari luar — bukan Auristella yang berbicara di sudut kamar, bukan Hyeon Jae yang ada di kursi belajar di jam-jam insomnia. Suara-suara yang kumaksud adalah suara yang sudah selalu ada di dalam tapi yang selama ini tenggelam di bawah kebisingan yang lebih keras.
Suara yang bilang: aku suka ini.
Suara yang bilang: ini tidak cocok untukku.
Suara yang bilang: aku butuh istirahat.
Suara yang bilang: aku bangga.
Selama bertahun-tahun suara-suara ini terlalu pelan untuk terdengar jelas — bukan karena tidak ada, tapi karena ada suara lain yang lebih keras: suara yang menghitung, yang membandingkan, yang selalu mencari bukti apakah aku cukup. Suara yang sudah sangat akrab sehingga terasa seperti kebenaran, bukan seperti kebiasaan.