Liburan kenaikan kelas berlangsung tiga minggu.
Aku pulang ke Malang dengan koper yang sama tapi isi yang sedikit berbeda — ada buku-buku tentang psikologi yang kali ini kubawa bukan untuk mengesankan siapapun tapi karena memang ingin membacanya, ada catatan-catatan dari sesi dengan Bu Dewi yang kusimpan dengan cara yang rapi, ada ruang kecil di sudut hati untuk sesuatu yang belum tahu namanya tapi terasa seperti antisipasi.
Bukan antisipasi yang cemas. Antisipasi yang... netral. Bahwa sesuatu akan terjadi dan aku tidak tahu pasti apa, dan itu bukan harus terasa mengancam.
Di stasiun, ibu menjemput lagi.
Kali ini tanpa ditanya sebelumnya — ia mengirim pesan dua jam sebelum kereta tiba: Ibu di stasiun jam berapa kamu sampai? Dan aku menjawab dengan waktu, dan itu sudah cukup.
Perjalanan dari stasiun ke rumah berlangsung dengan lebih banyak percakapan dari biasanya. Ibu bertanya tentang ujian akhir semester, tentang Wulan yang sudah berkali-kali kusebut dalam telepon-telepon terakhir, tentang seminar yang aku hadiri.
"Psikologi untuk apa?" tanyanya.
"Karena tertarik," kataku. Jawaban yang tidak lama-lama kupikirkan, yang keluar begitu saja.
Ibu mengangguk dengan cara yang belum sepenuhnya mengerti tapi tidak mempertanyakan lebih jauh.
Di rumah, Papa menunggu di ruang tamu — bukan karena tidak ada kegiatan lain, tapi karena ada di sana. Menunggu. Cara yang tidak biasanya, tapi hari itu ada di sana.
"Udah sampai," katanya.
"Udah, Pa."