Sehari sebelum liburan panjang semester dimulai, ada sesi terakhir dengan Bu Dewi.
Sesi ini terasa berbeda dari yang sebelumnya — bukan karena ada sesuatu yang spesial, tapi karena ada sesuatu yang terasa seperti penutupan sementara. Bu Dewi bilang bahwa selama liburan panjang, sesi bisa dilakukan secara online kalau dibutuhkan, atau bisa dijeda sampai semester baru dimulai.
"Kamu merasa butuh sesi selama liburan?" tanyanya.
Aku memikirkannya.
"Mungkin satu. Pertengahan liburan. Bukan darurat — lebih untuk check-in."
"Itu bisa diatur." Bu Dewi membuat catatan. "Dan kalau sebelum pertengahan ada yang berat?"
"Saya akan menghubungi."
"Tidak menunggu sampai terlalu dalam dulu."
"Tidak."
Bu Dewi mengangguk. Ada cara tertentu ia mengangguk yang sudah kukenal sekarang — bukan sekadar gestur, tapi konfirmasi bahwa ia mendengar dan percaya pada apa yang didengarnya.
"Sheira, sebelum kita tutup hari ini — ada satu hal yang ingin saya sampaikan."
Aku menunggunya.
"Enam bulan lalu, kamu masuk ke sini dengan cara seseorang yang sudah sangat lama berjalan sendirian dan tidak yakin bahwa meminta bantuan adalah sesuatu yang boleh dilakukan." Jeda kecil. "Hari ini kamu duduk di kursi yang sama dengan cara yang berbeda. Kamu masih dalam proses — proses ini tidak akan selesai dalam enam bulan. Tapi ada perubahan nyata yang bisa saya lihat, dan saya ingin kamu juga bisa melihatnya."