Nisa mendatangiku di perpustakaan pada suatu Rabu sore.
Bukan karena ada urusan khusus — ia hanya duduk di kursi seberangku dan meletakkan tasnya dengan cara orang yang sudah memutuskan akan ada di sini sebentar tapi tidak yakin seberapa lama.
"Boleh temani kamu di sini sebentar?"
"Boleh."
Kami duduk dalam diam selama beberapa menit. Aku membaca, Nisa mengeluarkan buku tapi tidak langsung membuka. Ada sesuatu yang ia bawa yang terasa berbeda dari biasanya, seperti berat kecil yang belum menemukan kata-katanya.
Aku menunggu.
"Shei."
"Hm."
"Aku mau minta maaf." Nisa berkata itu dengan nada yang sudah dipersiapkan — cara orang yang sudah memikirkan ini sebelum mengatakannya. "Bukan cuma yang waktu itu. Tapi secara umum."
Aku menutup buku.
"Secara umum?"