Pentas seni tahunan sekolah berlangsung akhir semester.
Aku tidak tampil — tidak ada penampilan yang kudaftarkan, tidak ada lomba yang menarikku ke sana sebagai peserta. Aku hadir sebagai penonton, yang juga adalah sesuatu yang jarang kulakukan sebelumnya karena hadir sebagai penonton terasa seperti mengakui bahwa ada sesuatu yang tidak aku ambil bagian di dalamnya.
Tapi malam itu aku duduk di barisan ketujuh dengan Wulan dan Nisa di sebelah kiri dan kanan, dan aku menonton.
Ada penampilan tari yang indah — kelompok anak kelas sepuluh yang sudah berlatih berbulan-bulan, dengan gerakan yang tidak sepenuhnya sempurna tapi penuh dengan sesuatu yang lebih penting dari kesempurnaan teknis. Ada penampilan band yang terlalu keras untuk selera beberapa orang tapi disambut dengan semangat oleh barisan terdepan. Ada pembacaan puisi oleh seseorang yang suaranya bergetar di awal tapi stabil di akhir — cara yang paling nyata dari keberanian kecil.
Dan ada monolog.
Seorang perempuan kelas sebelas — aku tidak hafal namanya, tapi wajahnya familiar dari kantin — berdiri di tengah panggung dengan teks di tangan yang tidak ia lihat sekalipun, berbicara tentang seseorang yang bertahun-tahun berbicara tentang perasaannya kepada dinding kamar karena tidak tahu siapa lagi yang akan mendengarkan.
Penonton tidak berisik saat itu.
Ada suasana di aula yang berubah menjadi sesuatu yang tidak sering ada di pentas seni sekolah — sesuatu yang lebih sungguh, lebih diam, lebih terasa seperti ruang yang aman untuk mendengar sesuatu yang benar.
Di akhir monolog, ada tepuk tangan yang berbeda dari tepuk tangan untuk penampilan-penampilan sebelumnya. Lebih lama. Lebih dalam.