Nilai ujian akhir semester diumumkan dua minggu sebelum libur panjang.
Aku membaca lembar nilai itu dengan cara yang berbeda dari cara aku membaca lembar nilai selama bertahun-tahun sebelumnya — bukan dengan kalkulasi cepat tentang berapa poin dari rata-rata sempurna, bukan dengan langsung mengidentifikasi nilai terendah sebagai bukti kekurangan.
Hanya membaca.
Rata-rata: 8.6
Di bawah rata-rata semesterku terbaik — 8.7 dua semester lalu. Di atas rata-rata semester yang paling berat. Solid, bukan spektakuler.
Dan aku duduk dengan nilai itu selama beberapa menit, menunggu reaksi yang biasanya datang — daftar hal yang bisa dilakukan lebih baik, kalkulasi apa yang harus dikerjakan lebih keras semester depan, bayangan wajah ibu yang akan berkata masih bisa lebih bagus lagi.
Reaksi itu tidak datang.
Atau mungkin datang sedikit, di tepi, suara yang sudah sangat akrab itu — tapi lebih pelan dari sebelumnya, dan ada suara lain yang kali ini bisa kudengar juga:
Semester ini kamu menghadapi banyak hal. Dan kamu tetap bisa melakukan ini.
Suara itu pelan juga. Tidak menggelegar, tidak dramatis. Hanya ada, di tempat yang sebelumnya selalu kosong.
Aku melipat lembar nilai itu dan memasukkannya ke buku catatan.
Lalu aku pergi ke kantin untuk makan siang.
Makan siang yang biasa, dengan menu biasa, di hari biasa.