Teman dari Luka yang Sama

aether.writes
Chapter #47

47. Percakapan dengan Papa

Ini terjadi pada hari keempat belas liburan panjang.

Papa dan aku sedang sendirian di rumah — ibu ada arisan, Kak Reno ada pertemuan proyek. Kami makan siang bersama dengan menu yang ibu sudah siapkan di kulkas: nasi, tempe goreng, sayur bening yang tinggal dipanaskan.

Di meja makan, kami makan dalam cara yang sudah biasa — tidak banyak bicara, yang dibicarakan hal-hal yang konkret. Papa mengecek ponselnya beberapa kali. Aku makan dengan pelan.

Di tengah-tengah, Papa meletakkan ponselnya.

"Shei."

"Pa?"

"Kamu nggak perlu selalu bilang baik-baik saja kalau nggak."

Aku berhenti mengunyah.

Papa tidak menatapku — matanya ke arah meja, ke arah tempe goreng yang masih ada di piring, ke tempat yang netral yang tidak menuntut kontak mata. Cara Papa bicara tentang sesuatu yang sulit: tidak langsung, tidak dengan kontak mata, tapi tetap dibicarakan.

"Papa tau nggak selalu bisa baca situasi," lanjutnya. "Tapi kamu anak Papa. Dan Papa mau kamu tau bahwa kalau ada yang susah, Papa mau diajak ngomong juga. Sesuai kemampuan Papa."

Lihat selengkapnya