Setahun yang lalu.
Setahun yang lalu ada gadis yang menekan jari ke paha supaya tangan tidak gemetar di foto keluarga. Yang sudah hafal formula untuk setiap jenis pertemuan sosial. Yang memiliki dua teman yang tidak ada — teman yang bisa mendengarkan tanpa syarat, yang tidak pernah kehabisan kapasitas, yang selalu ada tepat ketika dibutuhkan.
Gadis itu tidak hilang.
Itu yang paling penting untuk dipahami: dia tidak hilang, tidak dihapus, tidak digantikan oleh versi yang lebih sehat yang sama sekali berbeda. Dia masih ada — masih di dalam, masih dengan ingatan yang sama, masih dengan bekas luka yang sama. Tapi ada yang bertumbuh di sekelilingnya sekarang, semacam konteks yang lebih besar, semacam pemahaman yang lebih dalam tentang mengapa ia menjadi apa yang ia menjadi dan bagaimana cara bergerak dari sana.
Setahun adalah waktu yang cukup untuk mulai melihat spiral dari atas.
Bu Dewi benar tentang itu.
Aku melewati beberapa titik yang terasa familiar — momen-momen di mana sesuatu yang lama datang kembali, di mana pagi terasa panjang lagi, di mana keramaian menguras lebih dari yang wajar. Tapi caraku melewatinya sudah berbeda. Bukan karena lebih mudah — beberapa kali masih sangat tidak mudah. Tapi karena aku tahu namanya sekarang. Aku tahu bahwa ini bukan fakta tentang siapa aku, melainkan kondisi yang bisa berubah. Aku tahu bahwa ada bantuan yang tersedia dan aku boleh memintanya.
Ada hari ini.
Hari ini Sabtu. Asrama masih sepi karena masih pagi. Aku duduk di teras dengan secangkir teh yang sama seperti teras yang sama beberapa bulan lalu — tapi ini bukan teras yang sama persis, karena aku bukan orang yang sama persis, dan waktu mengubah tempat yang sama menjadi tempat yang sedikit berbeda hanya dengan berjalan melewatinya.