Akhir tahun ajaran.
Ada prosesi kecil — pengurus asrama bergantian, beberapa kakak tingkat lulus dan pergi, wajah-wajah baru akan datang di awal semester berikutnya. Lorong asrama punya aura yang berbeda di akhir tahun: campuran antara nostalgia dan antisipasi, antara berat melepaskan dan ringan karena akan ada yang baru.
Aku duduk di kasur kamarku dan melihat sekeliling.
Kamar 312 sudah sepenuhnya menjadi milikku — bukan hanya secara resmi, tapi dalam cara yang lebih dalam. Dinding sudah menyerap suaraku. Sudut-sudut ruangan sudah kukenal dengan cara yang tidak memerlukan deskripsi. Ada ketidaksempurnaan kecil yang sudah menjadi familiar: noda kecil di dekat jendela yang tidak bisa dibersihkan, suara pintu yang selalu agak bergerit di pagi hari, cara cahaya sore miring masuk dari sisi kiri.
Ini kamarku. Dan aku boleh merasa memilikinya.
Aku mulai mengemas beberapa barang yang tidak akan dibawa ke semester depan — buku-buku dari semester yang sudah lewat, catatan-catatan yang sudah tidak diperlukan, hal-hal yang sudah selesai melayani tujuannya.
Di antara yang kukemas, ada buku notes lama.
Aku membukanya di halaman pertama: tanggalnya dua tahun lalu. Tulisan tanganku yang lebih kaku, dengan tekanan yang lebih keras dari sekarang — cara menulis seseorang yang sedang mencoba mengontrol sesuatu melalui cara ia memegang pulpen.