Teman dari Luka yang Sama

aether.writes
Chapter #50

50. Surat untuk Diri Sendiri

Ini surat yang ditulis setahun setelah surat pertama.

Bukan karena ada yang memintaku. Bukan untuk diarsipkan atau dikirimkan ke siapapun. Tapi karena ada sesuatu yang ingin dikatakan kepada gadis yang setahun lalu menuliskan surat kepada dirinya sendiri dari sudut yang sedikit berbeda — gadis yang saat itu sudah mulai melihat pola tapi belum yakin apa yang harus dilakukan dengannya.

Untuk Shei yang tengah malam menulis surat pertama,

Kamu tidak tahu ini waktu itu, tapi surat yang kamu tulis malam itu adalah salah satu hal paling berani yang pernah kamu lakukan.

Bukan karena kata-katanya ajaib. Bukan karena sudah ada jawaban di dalamnya. Tapi karena kamu memilih untuk memberi kata-kata kepada sesuatu yang sudah sangat lama tidak punya kata-kata. Dan memberi kata-kata adalah cara pertama untuk mulai memperlakukan sesuatu sebagai nyata, layak diakui, layak diperhatikan.

Aku ingin memberitahumu beberapa hal tentang setahun setelah malam itu.

Pertama: kamu meminta bantuan. Bukan dalam satu momen besar yang heroik — dalam satu pesan singkat yang kamu ketik dan hapus dan ketik lagi dan akhirnya kirimkan pada tengah malam. Dan itu cukup. Itu lebih dari cukup.

Kedua: ada orang-orang yang mendengar. Bukan semua orang — tidak semua orang punya kapasitas untuk mendengar dengan cara yang dibutuhkan. Tapi ada beberapa. Dan beberapa, ternyata, bisa cukup.

Ketiga: Auristella tidak pergi dengan cara yang menakutkan. Ia berubah menjadi sesuatu yang berbeda — lebih seperti suara yang sudah dikenali sebagai milikmu, bukan sosok yang berdiri terpisah. Dan ada kesedihan dalam perubahan itu, tapi ada juga sesuatu yang terasa seperti kedewasaan yang datang pelan-pelan.

Keempat: keluarga tidak sepenuhnya berubah. Tapi ada percakapan yang tidak pernah ada sebelumnya. Ada masak bersama, ada papa yang bilang bangga kamu mau minta bantuan, ada ibu yang bilang hanya bagus tanpa tapi di belakangnya. Perubahan kecil yang berarti besar.

Kelima: kamu masih kamu. Masih seseorang yang berpikir terlalu dalam tentang hal-hal kecil. Masih seseorang yang membaca lebih cepat dari siapapun di kantin. Masih seseorang yang suka pagi yang belum sepenuhnya sadar. Hal-hal itu tidak hilang. Tapi sekarang mereka bisa ada tanpa harus dibuktikan atau diperformakan.

Ada satu hal yang ingin aku sampaikan paling akhir, karena ini yang paling lama dipelajari:

Lihat selengkapnya