Guru Bahasa Indonesia semester ini mengumumkan proyek akhir yang berbeda.
Bukan esai argumen, bukan analisis teks sastra. Tapi proyek kreatif pilihan — bisa puisi, bisa cerpen, bisa esai personal. Satu-satunya syarat: jujur.
Bu Rani menulis kata itu di papan tulis: JUJUR.
Lalu ia berkata: "Bukan jujur yang menampilkan diri kamu sebagai korban atau sebagai pahlawan. Jujur yang mencoba memahami sesuatu dari pengalamanmu sendiri, tanpa melebih-lebihkan dan tanpa mengecilkan."
Aku duduk di kelas dan mendengarkan dengan cara yang berbeda dari cara aku mendengarkan tugas biasanya.
Bukan menghitung berapa kata yang dibutuhkan untuk mendapat nilai tertinggi. Bukan mengidentifikasi formula yang paling aman. Tapi sungguh-sungguh mendengarkan — membiarkan kata JUJUR duduk di dalam dan mencari tahu apa yang muncul ketika kata itu dibiarkan ada.
Yang muncul adalah ini:
Ada cerita yang sudah sangat ingin ditulis selama beberapa waktu terakhir, yang sudah ada dalam berbagai potongan di notes dan surat-surat yang tidak dikirim. Cerita tentang seseorang yang belajar bahwa meminta bantuan adalah kekuatan, bukan kelemahan. Tentang bagaimana luka-luka kecil yang terakumulasi adalah nyata bahkan ketika tidak ada satu momen besar yang bisa dijadikan alasan. Tentang dua teman yang tidak ada yang pernah sangat nyata.
Aku tidak pernah menulis cerita itu secara utuh.
Selama ini hanya potongan — surat di sini, catatan di sana, paragraf-paragraf yang tidak terhubung karena menghubungkannya berarti melihat keseluruhannya sekaligus, dan melihat keseluruhannya sekaligus selalu terasa terlalu besar.
Tapi mungkin sekarang sudah cukup berjarak untuk melakukannya.
Aku membuka laptop di kamar malam itu dan mulai menulis.
Bukan dengan formula. Bukan untuk nilai, meski proyek ini memang akan dinilai. Tapi dengan cara yang sudah mulai kupelajari: dari tempat yang jujur, tentang sesuatu yang nyata, tanpa meminta maaf lebih dulu untuk berapa banyak tempat yang dibutuhkan.