Dua bulan setelah pertemuan pertama di kantin, Salma dan aku sudah membangun semacam rutinitas.
Bukan persahabatan yang intens dengan percakapan-percakapan mendalam setiap harinya — lebih seperti kehadiran yang konsisten. Meja yang sama di kantin. Sesekali belajar bersama di perpustakaan. Pertukaran informasi tentang jadwal dan tugas dan hal-hal yang konkret.
Tapi ada yang berbeda tentang cara kami berbicara dari cara aku biasanya berbicara dengan orang baru.
Aku tidak mengelola persepsi dengan cara yang sama. Tidak menghitung setiap kata untuk memastikan terdengar dengan cara yang tepat. Tidak menyimpan energi untuk formula-formula kecil yang membuat orang nyaman dengan versiku.
Aku hanya berbicara.
Suatu sore di perpustakaan, Salma menutup bukunya dan berkata tanpa pendahuluan:
"Shei, boleh aku tanya sesuatu yang agak personal?"
"Boleh."
"Kamu pernah ke konselor atau terapis?"
Aku menatapnya.
"Iya," kataku. "Sudah hampir setahun."
Salma mengangguk pelan. Ada sesuatu di wajahnya yang sudah kukenal — bukan dari Salma khususnya, tapi dari cermin dan dari catatan lama dan dari cara seseorang terlihat ketika sedang mempertimbangkan apakah akan melanjutkan atau tidak.