Sesi dengan Bu Dewi hari itu dimulai dengan pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan sebelumnya.
Bu Dewi duduk dengan cara yang biasanya, tapi ada sesuatu tentang caranya yang terasa sedikit lebih membuka hari itu, seperti ia bersiap untuk percakapan yang lebih dalam dari yang biasanya.
"Sheira, kamu pernah bayangkan seperti apa kondisi yang kamu anggap sebagai sembuh?"
Aku diam sebentar. Pertanyaan yang besar.
"Pernah. Tapi definisinya berubah."
"Berubah bagaimana?"
"Dulu aku pikir sembuh berarti semua ini hilang — tremor hilang, insomnia hilang, pikiran yang berisik di kepala hilang. Kondisi yang bisa kita bilang: sekarang sudah beres, tidak ada masalah lagi."
"Dan sekarang?"
Aku memikirkannya dengan cara yang berbeda dari biasanya — bukan mencari jawaban yang benar, tapi mencari jawaban yang jujur.
"Sekarang aku pikir sembuh lebih seperti... bisa berfungsi dengan cara yang lebih baik, dengan kondisi yang mungkin tidak sepenuhnya hilang. Tremor masih ada kadang — tapi tidak menguasai hari. Pikiran yang berisik masih datang — tapi aku tau cara kerjanya sekarang dan tidak langsung percaya semuanya." Jeda. "Sembuh bukan tidak punya luka lagi. Tapi tidak biarkan luka mengontrol semua gerakan."