Liburan semester. Rumah Malang. Dapur yang sama.
Tapi ada yang berbeda tahun ini: Kak Reno tidak ada — ia sedang magang di kota lain, baru akan pulang akhir bulan. Rumah lebih sepi dari biasanya, yang terasa seperti kondisi yang berbeda tapi tidak selalu lebih buruk.
Papa, ibu, dan aku.
Tiga orang yang sudah memiliki percakapan-percakapan yang belum pernah ada sebelumnya setahun terakhir ini — tidak banyak, tidak panjang, tapi ada. Perubahan yang ditandai bukan dengan momen besar tapi dengan akumulasi kecil: cara ibu sesekali bertanya bagaimana kondisimu bukan bagaimana nilainu. Cara Papa menyebut bangga kamu mau minta bantuan yang masih kuingat kata per katanya. Cara mereka berdua tidak langsung mengubah topik ketika aku menyebut sesi dengan Bu Dewi.
Hari kedua di rumah, ibu mengajakku ke pasar.
Bukan hal yang biasa — aku tidak pernah diajak ke pasar, bukan karena tidak diinginkan tapi karena tidak pernah ada yang menawarkan dan aku tidak pernah memintanya. Kali ini ibu berkata pagi itu: ikut Ibu ke pasar? Dan aku berkata iya sebelum berpikir lebih lama.
Di pasar, kami berjalan di antara lapak-lapak yang ramai dengan cara yang tidak perlu banyak percakapan — ibu memilih sayuran dengan cara yang sangat terlatih, aku mengikuti sambil sesekali memegang sesuatu yang ia tunjuk untuk dicek kesegarannya. Komunikasi tanpa banyak kata, bahasa tubuh yang cukup. Ada ritme di dalamnya yang terasa familiar meski baru pertama kali.
Di tengah-tengah, ibu berhenti di lapak bumbu dan sambil memilih-milih cabe berkata tanpa memandangku: