Ada banyak cara untuk hadir di dunia.
Aku belajar itu pelan-pelan, melalui berbagai contoh yang tidak selalu dramatis.
Ada cara hadir yang performatif — hadir yang mengelola seperti apa kamu terlihat dari luar, yang memastikan ekspresi, kata-kata, dan gerakan sudah dalam format yang diterima lingkungan. Aku sangat mengenal cara ini. Sudah sangat lama menguasai tekniknya. Sudah sangat lama tahu cara senyum yang sampai ke mata, cara anggukan yang terasa tulus, cara tertawa pada waktu yang tepat.
Ada juga cara hadir yang berbeda.
Cara hadir yang tidak mengelola tampilan dari luar, tapi membiarkan diri benar-benar ada di dalam momen — melihat yang ada untuk dilihat, mendengar yang ada untuk didengar, merasakan yang ada untuk dirasakan. Tidak menyaring semua input melalui pertanyaan: bagaimana ini terlihat dari luar?
Cara yang kedua jauh lebih melelahkan dari yang pertama, tapi dengan cara yang berbeda — bukan melelahkan karena harus menyimpan energi untuk performa, tapi melelahkan karena sungguhan. Karena memproses sesuatu secara penuh membutuhkan lebih banyak daripada hanya memonitornya dari jarak aman.
Aku belajar cara hadir yang kedua melalui sesi-sesi dengan Bu Dewi, melalui percakapan-percakapan dengan Salma dan Wulan yang tidak selalu dalam tapi selalu nyata, melalui telepon-telepon dengan ibu yang pelan-pelan kehilangan beberapa lapisan formalitas. Melalui momen-momen kecil seperti pasar pagi dengan ibu dan masak bersama dengan Papa dan duduk di teras asrama dengan secangkir teh tanpa agenda.
Melalui menulis.
Menulis adalah cara hadir yang paling jujur yang pernah kutemukan — karena ketika menulis, tidak ada audiens yang perlu dikelola secara real-time. Ada hanya kamu dan kata-kata dan ruang kosong yang menunggu diisi. Ruang yang tidak menghakimi betapa banyak waktu yang kamu butuhkan, betapa berantakan draf pertamanya, betapa sering kamu menghapus dan memulai ulang.
Aku menulis lebih banyak sekarang.