Kak Reno pulang dari magang tiga hari sebelum liburan berakhir.
Ia datang dengan cara yang biasanya — ramai, penuh cerita tentang perjalanan dan proyek dan hal-hal yang ia temui selama tiga bulan. Ada magnetisme dalam cara ia bercerita yang tidak pernah berubah: orang-orang tertarik mendekat, percakapan mengalir, ruangan menjadi sedikit lebih hidup.
Tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Di sela-sela ceritanya yang ramai, ada momen ketika semua orang sedang sibuk dengan hal masing-masing — Papa di ruang kerja, ibu di dapur — dan kami berdua duduk di ruang tamu dengan televisi yang tidak ditonton.
Kak Reno menutup ponselnya dan berkata:
"Shei, Ibu cerita ke aku. Tentang kamu ke psikolog."
Aku menatapnya.
"Kapan?"
"Waktu aku telepon bulan lalu. Ibu bilang." Ia menatapku balik. "Kenapa nggak bilang ke aku langsung?"
Pertanyaan yang valid. Kak Reno adalah kakakku. Tapi jawabannya juga valid:
"Kita nggak pernah banyak ngobrol tentang hal kayak gini."