Kelas dua belas dimulai dengan pengumuman yang sudah sangat diketahui semua orang tapi selalu terasa lebih nyata ketika sudah tertulis di papan: ini semester terakhir.
Tidak hanya semester terakhir sebagai siswa di sekolah ini — tapi semester terakhir di asrama, di kamar 312 yang sudah sangat kukenal, di lorong dengan kipas angin yang berputar dengan bunyi yang sudah sangat familiar. Setelah ini ada ujian nasional, ada ujian masuk universitas, ada dunia yang lebih besar yang sudah menunggu dengan cara yang belum bisa sepenuhnya dibayangkan.
Aku duduk di teras asrama pada hari pertama semester terakhir.
Secangkir teh yang sama, kursi yang sama, tapi dengan perasaan yang berbeda — perasaan seseorang yang sedang di antara dua hal, yang satu sudah sangat dikenal dan satu lagi belum terbentuk.
Wulan duduk di sebelahku.
"Nervous?" tanyanya.
"Sedikit," kata saya. "Tapi bukan nervous yang sama seperti dulu."
"Bedanya apa?"
Aku memikirkannya.
"Nervous yang dulu lebih ke takut tidak cukup baik. Nervous yang sekarang lebih ke antusias-gugup tentang sesuatu yang baru."