Teman dari Luka yang Sama

aether.writes
Chapter #62

62. Epilog

Ada yang ingin aku katakan kepada semua orang yang pernah ada dalam cerita ini — bukan sebagai kesimpulan yang rapi, bukan sebagai resolusi yang menyelesaikan semua hal yang belum selesai, tapi sebagai sesuatu yang lebih jujur dari itu.

Kepada ibu: terima kasih sudah mencintai dengan cara yang kamu bisa. Bahasa ayam goreng dan makan yang bener dan hanya bagus tanpa tapi — aku sudah belajar membacanya. Aku masih belajar. Tapi aku sudah tahu sekarang bahwa ada cinta di sana, bahkan di momen-momen ketika cara penyampaiannya tidak tepat. Dan ada harapan bahwa pelan-pelan kita akan menemukan bahasa yang lebih mudah dipahami keduanya.

Kepada Papa: terima kasih untuk bangga kamu mau minta bantuan. Kalimat itu terus terasa — dan akan terus terasa. Terima kasih untuk masak bareng dan untuk sesuai kemampuan Papa yang adalah salah satu kalimat paling jujur yang pernah kudengar. Kamu sedang belajar juga. Aku lihat itu.

Kepada Kak Reno: kamu bercahaya dengan cara yang tidak bisa disalahkan. Tapi sekarang aku sudah tahu bahwa cahayamu tidak harus menggelapkan milikku. Ada cukup cahaya untuk semua orang di ruangan yang sama. Kita hanya perlu belajar bagaimana tidak menghalangi satu sama lain.

Kepada Nisa: terima kasih untuk dua tahun berbagi kamar, untuk bahasa diam yang terbentuk sendiri, untuk percakapan yang jujur di kamar dengan cat kuku — dan untuk akhirnya mengakui bahwa tidak selalu punya kapasitas adalah sesuatu yang manusiawi. Kamu juga belajar.

Kepada Wulan: terima kasih sudah memberikan ruang tanpa bertanya terlalu banyak dulu. Ada orang-orang yang hadir dengan cara yang tidak memerlukan banyak kata, dan kamu adalah salah satunya.

Kepada Salma: kamu mengingatkan aku bahwa proses ini bukan hanya tentang diri sendiri. Bahwa seseorang yang sudah menemukan pintunya bisa membantu orang lain menemukan pintunya sendiri. Terima kasih untuk itu.

Kepada Rayan: kamu tidak pernah tahu tentang empat puluh tujuh entri di notes. Kamu tidak perlu tahu. Tapi aku berterima kasih untuk cara kamu berbicara denganku seperti dua orang yang setara, untuk observasi tentang attentional bias yang mendarat lebih dalam dari yang kamu sadari, untuk cara kamu hadir tanpa agenda yang perlu dianalisis. Itu cukup.

Kepada Bu Hesti: terima kasih untuk pertanyaan-pertanyaan yang memberikan kata-kata kepada sesuatu yang belum pernah punya kata-kata.

Kepada Bu Dewi: terima kasih untuk setahun percakapan yang tidak pernah terasa seperti pertanyaan ujian. Untuk cara kamu membiarkan prosesnya menjadi milikku, bukan milikmu. Untuk cara kamu tidak pernah berkata nanti juga reda sendiri.

Kepada Bu Rani: terima kasih untuk teruskan menulis.

* * *

Dan kepada Auristella dan Hyeon Jae:

Lihat selengkapnya