Kosong. Kelas Dzakira masih kosong pagi ini. Apa dia terlalu awal berangkat ke sekolah? Padahal kelas lain sudah ada beberapa penghuni. Namun, Dzakira tak mau ambil pusing. Lebih baik dia bersantai saja di kursinya. Tangannya terlipat di atas meja, lalu wajahnya dia jatuhkan ke lengannya itu. Matanya dia pejamkan, sembari menunggu teman kelasnya satu per satu hadir ke kelas. Selang satu menit, dia merasakan ada sesuatu yang bergerak di rambutnya. Pikiran negatif mulai menyerangnya. Jantungnya berdetak tak keruan. Apa ada hantu di kelasnya?
Menangkis pemikiran itu dari otaknya, Dzakira mengangkat wajahnya dan tersentak kaget kala mendapati seorang cowok tengah menatapnya dengan tatapan tajam. Detik berikutnya cowok itu tertawa, entah apa yang ditertawakan.
‘’Pagi teman,’’ sapa cowok itu yang tak lain adalah Archer.
Dzakira bernapas lega. Untung saja yang ada di depannya itu bukan sesuatu yang sempat dia pikirkan. ‘’Kenapa lo tiba-tiba ada di kelas gue?’’
Archer mendudukkan dirinya di kursi sebelah Dzakira. Lalu menjawab, ‘’Sudah jelas, bukan? Gue mau ketemu teman gue."’
Oh, iya. Dzakira baru mengingatnya. Cowok tampan itu kan temannya. Eh, ralat. Teman kontraknya maksudnya. Hening. Dzakira tidak tahu apa yang harus dia bicarakan dengan Archer. Apalagi di dalam kelas hanya ada dirinya dengan Archer saja. Dia jadi kikuk mengingat dirinya yang baru mengenal Archer sehingga dia tidak tahu seperti apa sifat Archer sebenarnya. Besar harapan dia agar ada temannya yang sudah sampai ke sekolah.
Padahal baru saja dia berharap, harapannya langsung terkabul kala seorang teman kelasnya yang paling pendiam memasuki kelas. Namun, ketika melihat Dzakira bersama seorang cowok, teman sekelasnya itu berbalik dan kembali meninggalkannya dengan rasa kikuknya. Bahunya Dzakira merosot. Dia tidak tahan berada di sana hanya bersama Archer. Oleh sebab itu, dia bangkit berdiri berniat mengajak Archer keluar kelas. Nyatanya nihil, tangan Archer dengan cepat menahan Dzakira hingga cewek itu kembali ke tempat duduknya. Saat itu pula manik matanya bertemu pandang dengan manik hitam pekatnya Archer.
Deg! Jantung Dzakira berdebar kala bibir tebal Archer tertarik membentuk senyum. Cepat-cepat dia mengalihkan tatapannya ke arah lain. Tak bisa dia pungkiri, Archer memang memiliki wajah rupawan.
"Lo mau ke mana?" tanya Archer dengan suara pelan.
Sembari menetralisir debaran jantungnya Dzakira pun menjawab, ‘’Keluar kelas aja yuk! Gak enak di kelas, cuma ada lo sama gue aja.’’
‘’Emangnya kenapa kalo di kelas cuma ada lo sama gue aja?’’ Archer menyeringai.
"Karena--"
‘’Dzakira!’’ seruan seseorang menyela, mengalihkan tatapan keduanya. Saat itu pula Dzakira bersyukur karena kedatangan Rara.
‘’Eh, ternyata lagi sama cogan. Kenalin, gue Rara, temannya Dzakira.’’ Rara mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Acher.
‘’Gue Archer. Temannya Dzakira.’’
‘’Serius, nih, cuma teman?’’ selidik Rara curiga.
‘’Sejutarius malahan. Kami cuma teman kok,’’ balas Dzakira meyakinkan Rara. Toh, dirinya dan Archer memang teman, kan?
‘’Gue ke kelas dulu, ya!’’ pamit Archer karena penghuni kelas Dzakira mulai berdatangan satu per satu.
Dzakira bernapas lega, Archer sudah pergi dari kelasnya.
‘’Yang tadi, cowok yang kemarin, kan?’’ Tiba-tiba Indah datang dan langsung memberi pertanyaan pada Dzakira. Indah berpapasan dengan Archer di ambang pintu kelas. ‘’Lo punya hubungan apa sih sama dia?’’
Dzakira menatap Indah dan Rara malas. ‘’Berapa kali sih harus gue bilang? Dia cuma teman gue.’’
Indah menepuk bahu Dzakira dua kali. ‘’Iya, gue percaya kok sama lo. Dia itu cuma teman lo.’’