Ketika bel pulang berbunyi, satu per satu penghuni sekolah meninggalkan ruangan kelas.
Dzakira keluar bersama kedua temannya. Langkahnya terhenti kala sebuah tangan menghentikannya dari belakang. Awalnya dia terkejut, namun hanya sebentar. Itu Archer. Dan itu kembali membuat temannya curiga. Ralat. Tambah curiga.
"Kalian mau pulang bareng?" Indah bertanya.
"Nah, benar, kan? Kalian mau pulang bareng. Gue benar-benar curiga," ucap Rara sambil menatap Dzakira dan Archer bergantian. Rasa curiga yang tak kunjung usai.
"Kami cuma teman!" tegas Dzakira. Archer memang sudah berjanji ke rumahnya sepulang sekolah, untuk bertemu dengan ibunya. "Lo udah berapa kali curigain gue hari ini?"
"Kami cuma teman, kok. Dan gak masalah kalo kami jadi akrab, kan?" tambah Archer santai. Kedua tangannya tenggelam dalam saku seragamnya.
Rara menghela napasnya. Kemudian membalas, "Baiklah. Gue bakalan berhenti curigain lo."
Rara akhirnya menyerah, dipikir-pikir dia juga tidak perlu terlalu mencurigai temannya itu. Dan itu juga bukan urusannya.
"Ya sudah, kami duluan," pungkas Archer sambil menggiring Dzakira pergi.
Mobil Archer telah keluar dari lingkungan sekolah dan bergabung dengan kendaraan lainnya di jalan raya. Dia sempat berhenti di tempat jual buah, omong-omong dia merasa tidak enak datang ke rumah Dzakira dengan tangan kosong. Selain itu, dia ingin membuat kesan baik pada ibu cewek itu. Agar tidak mencurigainya suatu saat nanti? Maybe.