Karena semalam tidak meminta izin pada Linda, pulang ke rumah Dzakira beralasan bahwa dia pergi untuk membeli camilan di minimarket. Untung saja dia punya uang di saku pakaiannya untuk membeli itu. Jadi, dia aman dari kekhawatiran Linda.
Pagi ini, ketika sarapan dia lebih banyak diam. Berusaha tersenyum melihat Fatih yang makan dengan tempo cepat. Sehingga adiknya itulah yang duluan siap sarapan. Ketika melihat wajah Linda, dia lagi-lagi merasa sedih walaupun ibunya itu tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.
Dzakira tidak ingin membuat Linda khawatir. Dia tidak ingin membuat Linda kecewa. Dia bahkan sempat meyakinkan ibunya itu bahwa Archer itu orang baik. Jadi, bagaimana mungkin dia mengatakan fakta yang diketahuinya? Dia harus merahasiakan itu dari Linda, begitu tekadnya.
"Dzakira berangkat dulu ya, Bu!" Dzakira sudah siap sarapannya. Setelah menyalami tangan Linda, dia iseng mengacak-acak rambut Fatih yang sedang minum itu, membuat adiknya itu kesal.
"Kakak!" teriak Fatih.
"Maaf," balas Dzakira lalu bergegas pergi. Ya, setidaknya itu menginterupsi pikirannya mengenai Archer meski sesaat.
***
Sekitar lima belas menit sebelum bel masuk berbunyi, Dzakira meminta Archer menemuinya di belakang gudang sekolah. Matanya menatap marah ke arah cowok yang ada di hadapannya itu.
"Lo puas mainin gue semalam? Seharusnya gue gak mudah percaya sama orang kayak lo! Seha--"
"Lo mau bilang kalo lo nyesal?" Archer menyela. Dengan wajah menyeringai dia melanjutkan, "Lo tau sendiri, kan. Penyesalan itu selalu datang terlambat. Dan juga, jadi orang itu jangan terlalu mudah percaya sama orang asing. Oh iya, apa semua orang miskin kayak lo? Kalo ngelihat uang langsung percaya bahkan pada orang asing?"
Mata Dzakira nyalang memandang Archer. Dia tidak menduga kalau cowok itu akan berkata seperti itu kepadanya. "Lo ngerendahin gue? Ah, iya. Gue paham. Harga diri orang miskin memang kerap kali diinjak-injak oleh orang kaya kayak lo."
"Emangnya lo punya harga diri?"
"Archer, cukup!" teriak Dzakira sarat emosi, memberanikan dirinya akan itu. "Semua orang punya harga diri. Gue emang orang miskin. Saat itu gue lagi butuh uang. Keluarga gue enggak sekaya keluarga lo. Tapi, lihat! Lo malah mainin gue! Gue terpaksa tanda tangan kontrak dengan lo, demi lunasi utang mendiang ayah gue!"
Archer tertawa miring mendengar ucapan Dzakira. "Terpaksa? Haha, bagus. Lo sama aja!"
Dzakira tidak mengerti maksud dari ucapan Archer. Namun, dia kembali bersuara, mengutarakan sesuatu yang sempat terpikir olehnya sejak dia hendak tidur semalam. "Apa kontraknya benar-benar enggak bisa dibatalin? Gue gak mau terjebak dengan tipuan lo."
Archer menggeleng. Dia memandang Dzakira remeh. "Sayangnya enggak bisa. Lagian, lo yakin bisa ngembaliin uang gue secepatnya?!"