Archer : Beli jus apel buat gue. Gue tunggu lo di lapangan basket outdoor.
Dzakira mendengkus. Begitu bel istirahat berbunyi, dia langsung disambut dengan chat dari Archer itu. Dia amat dongkol, padahal baru tadi pagi dia beradu mulut dengan cowok yang tampaknya sama sekali tidak peduli lagi akan itu.
Dia beranjak dari tempat duduknya sambil menatap kedua temannya bergantian. "Gue ada urusan mendadak. Gue duluan, ya."
Belum juga kedua temannya membalas, dia sudah melangkah saja. Rara dan Indah jadi heran dibuatnya. Tujuannya sekarang adalah kantin, tentu saja. Di sana dia mengantri di stan penjual jus. Sedikit berdesakan. Jus apel untuk Archer dan jus jeruk untuk dirinya sendiri.
Tiba di lapangan basket outdoor, didapatinya Archer duduk di tribune yang paling bawah. Karena tribune memiliki atap, jadi tak akan bermandikan cahaya matahari yang begitu terik itu.
Berdiri di depan Archer duduk, Dzakira menyodorkan gelas plastik berisi jus apel milik cowok itu. "Punya lo," ucapnya cuek.
Dengan wajah datarnya Archer meraih sodoran Dzakira.
Dzakira tidak berharap mendapat ucapan terima kasih dari cowok itu karena sudah membelikan jus. Dia yakin tak akan dia dengar saat ini. Baru saja dia akan melangkah pergi, namun Archer malah menarik tangannya sambil bertanya, "Lo mau ke mana?"
"Kelas," balas Dzakira singkat seraya menepis tangan Archer dari tangannya.
"Gak boleh! Duduk di sebelah gue, sekarang!"
Dzakira mengernyitkan keningnya. Lalu berucap ketus, "Kenapa gak boleh? Emangnya lo siapa gue yang sok-sokan perintahin gue?!"
"Gue?" Archer menunjuk dirinya sendiri. "Bukannya udah jelas? Gue teman lo!"
Gotcha! Dzakira kehilangan kata-katanya. Akhirnya dia mendudukkan dirinya di sebelah cowok itu dengan wajah masam. Tanpa banyak bicara dia menyesap jus jeruknya.
Archer mengeluarkan uang lima puluh ribu dari dompetnya dan menyerahkan itu pada Dzakira. "Ini gue bayar jus apelnya."
Dzakira menggeleng. "Gak papa, gue traktir lo!"
"Baiklah." Archer kembali menyimpan uangnya itu.
Kemudian hening berkepanjangan antara keduanya. Dzakira dengan perasaan tak betah dan ingin segera pergi. Lalu Archer dengan pikirannya yang tengah menyusun rencana apa yang asyik untuk mempermainkan Dzakira.
"Gue kecewa sama lo, Archer! Gue pikir lo orang baik. Ternyata, lo cuma mainin gue." Dzakira duluan yang mengakhiri hening itu. Dia berkata terus terang.
"Gue pikir lo juga gak ada bedanya," balas Archer cepat. Ada senyum sarkastis di sudut bibirnya.
"Maksud lo apa?"
Tak ada jawaban. Archer memandang lurus ke depan. Dia sibuk menyesap habis jusnya.