Archer mengetuk pintu rumah Dzakira beberapa kali. Ada sebungkus martabak manis di tangan kanannya. Tidak menunggu lama, pintu terbuka. Ternyata ibunya Dzakira yang membuka pintu tersebut. Archer tersenyum manis sebelum mengucapkan salam. Dia menyodorkan kantong plastik berisi bungkusan martabak itu pada Linda.
"Apa ini?" tanya Linda. "Gak usah repot-repot, Nak."
"Gak papa, Tan. Sesekali." Archer memang tidak enak datang ke sana dengan tangan kosong. Dia cukup senang ketika Linda menerimanya. Linda menyuruhnya masuk. Dia bosan di rumah, makanya dia ke sana malam itu.
Sementara itu, Dzakira baru selesai mengerjakan PR-nya di kamar. Pintunya yang sedikit terbuka semakin melebar karena ibunya. Dia menatap ke arah Linda dan bertanya, "Kenapa, Bu?"
"Itu, ada teman kamu di depan. Cepat temui dia gih sana!" Tidak menjelaskan lebih banyak siapa yang datang, Linda berlalu menuju dapur. Siapa temannya yang datang? Pikir Dzakira.
Ketimbang bertahan dalam rasa penasaran, dia bertolak ke ruang tamu. Matanya sedikit melebar ketika melihat Fatih duduk di sebelah cowok yang telah membuatnya jantungan sepulang sekolah tadi. Kenapa cowok menyebalkan itu ke rumahnya malam-malam seperti itu?
"Ngapain lo ke sini?" tanya Dzakira dengan suara kecil agar ibunya tidak mendengar. Archer dan Fatih melihat ke arahnya.
"Gue ke sini bukan mau ketemu lo, ya! Gue mau ketemu sama ibu dan adik lo." Archer kini fokus pada ponselnya.
Dzakira kehilangan kata-katanya. Archer sangat berani. Seperti tidak ada apa pun yang terjadi antara keduanya. Mereka bahkan berkali-kali adu mulut hari ini. Dia yakin sekali kalau Linda tahu seperti apa Archer sebenarnya, pasti ibunya itu tidak akan mengizinkan cowok itu masuk ke rumah mereka. Bahkan baru sampai di teras saja Dzakira yakin Linda pasti akan langsung mengusir Archer.
"Dzakira!" Panggilan ibunya dari dapur membuat Dzakira melangkah ke arah sumber suara.
"Kenapa, Bu?" Dzakira bertanya dengan wajah sebalnya. Untung saja Linda tidak menyadari itu.
"Ini bawa minuman buat Nak Archer. Ibu mau istirahat dulu di kamar." Belum juga Dzakira mengiyakan ibunya itu sudah melenggang pergi saja. Mau tak mau dia harus membawa nampan berisi dua cangkir teh manis itu.
Tak ada senyum di wajahnya. Dia menaruh nampan tersebut di atas meja dekat dua orang yang tengah sibuk dengan ponsel itu. Tanpa berbicara sepatah kata pun dia berjalan ke kamarnya. Menghempaskan tubuhnya ke kasur empuknya. Ketika sadar sesuatu, dia meraba-raba kasurnya. Di mana ponselnya?
Tiba-tiba teringat, dia bangkit dari kasurnya. Padahal baru saja merebahkan tubuhnya di sana. Ternyata benar dugaannya. Ponselnya ada di tangan Fatih. Kenapa dia baru sadar sekarang? "Fatih, itu ponsel Kak Dza."
Ketika hendak mengambil kembali ponselnya, Fatih malah menyembunyikan itu di belakang punggungnya. "Fatih pinjam sebentar aja, kok."
"Mau kamu apain ponsel Kakak?" Dzakira berkacak pinggang.
Fatih menunjukkan sekilas layar ponsel pada Dzakira. "Main game sama Bang Archer."
"Fatih habisin kuota Kakak buat download game-nya, ya?" tuding Dzakira.