Teman Kontrak

Wardatul Jannah
Chapter #10

09 - Sendirian

Bersama kedua temannya, Dzakira tengah berjalan menuju kantin. Dia menghela napas beratnya kala mengecek ponselnya. Ada chat dari Archer. Pasti ada sesuatu yang diinginkan cowok itu, pikirnya.

"Mengganggu aja nih orang," gerutunya dengan suara kecil. Namun, masih bisa didengar oleh Rara dan Indah.

"Siapa yang ngeganggu lo?" heran Indah.

Dzakira menggeleng. Dia mengambil langkah dekat dinding koridor agar tidak menghalangi jalan yang lain, karena dia berhenti sesaat untuk membaca isi chat dari Archer.

Archer : Beliin gue snack sama air mineral! Gue tunggu di kelas gue.

Dan, benar saja dugaannya.

"Cih, lo pikir gue babu lo?!" umpatnya setengah berbisik. Matanya kini memandang kedua temannya yang ikut berhenti melangkah.

"Kenapa, Dza?" Rara bertanya.

Dzakira menggeleng. "Gue duluan, ya! Dadah."

Dzakira berlari kecil menuju kantin, meninggalkan Indah dan Rara yang penuh dengan pertanyaan. Bagaimana tidak? Akhir-akhir ini Dzakira jarang ke kantin bersama mereka.

Ah, Rara ingat. Pasti itu gara-gara si Archer.

Usai membeli apa yang disuruh Archer, Dzakira bergegas ke kelas cowok itu. Dia awalnya agak gugup karena Archer itu kakak kelasnya. Sebenarnya bukan ke Archernya dia gugup, tapi ke penghuni kelasnya. Dia bernapas lega ketika sadar kelas Archer sedang sangat sepi, hanya ada cowok itu. Setidaknya tidak akan ada rumor yang salah.

"Kayaknya gue bukan lagi teman kontrak lo, ya?" sindir Dzakira sambil menyerahkan kantong plastik berisi tiga bungkus snack dan sebotol air mineral. "Gue kayak jadi budak lo aja."

Archer menggeleng. "Enggak, kok. Ini namanya pertemanan. Sebagai teman harus saling tolong menolong. Dan ini, gue lagi minta tolong sama lo."

"Iyain aja, deh."

"Berapa ini semua?"

"Dua puluh ribu."

"Ini." Archer mengembalikan uang Dzakira.

"Oke." Dzakira baru saja hendak melenggang pergi, tetapi Archer malah memanggilnya.

"Dzakira!"

"Apa? Mau apa lagi sih lo?!" sahut Dzakira malas.

"Duduk di sebelah gue!" Archer menepuk-nepuk kursi sebelahnya yang kosong.

Dzakira menggeleng. "Enggak, ah! Gue mau ke kantin. Gue mau jajan sama teman gue."

Lihat selengkapnya