"Ngapain lo di kamar gue?!"
"Cepetan pakek baju dulu! Nanti gue jelasin!" teriak Dzakira.
"Awas kalo lo gak jujur!" ancam Archer sambil menutup kembali pintu lemari di mana ada Dzakira di dalamnya. Dia mengambil pakaiannya. Kemudian berjalan ke pintu kamarnya, menutup rapat dan tak lupa menguncinya. Setelah itu, kunci pintu ikut dibawanya ke kamar mandi agar Dzakira tidak kabur.
Menetralisir debaran jantungnya, Dzakira mendorong pintu lemari dan keluar dari dalam sana. Dia menarik napas kuat-kuat. Melangkah ke arah pintu kamar. Matanya membulat ketika dia menggerakkan kenop pintu. Kenapa pintunya tidak bisa terbuka? Tidak ada kunci di sana.
"Kuncinya ada di Archer? Gawat," gerutunya dengan tangan masih menyentuh kenop. "Ah, sial!"
Dzakira mendengkus beberapa saat kemudian, kala sadar cowok itu telah keluar dari kamar mandi dengan balutan celana jeans dan kaus oblong putih. Rambut cowok itu basah dan berantakan. Archer memangkas jarak dengannya. Dia agak panik melihat seringaian di wajah Archer. Dia merapatkan tubuhnya ke daun pintu.
Dzakira heran, kenapa Archer terus mendekat ke arahnya? Dekat, dan semakin dekat. Archer memojokkannya ke daun pintu. Lalu kedua tangan cowok itu mengapit tubuhnya. Juga jarak wajah yang hanya beberapa senti. Deg! Jantung Dzakira berdebar-debar karena ditatap lekat-lekat oleh Archer. Yang pasti, debaran itu berbeda dari sebelum-sebelumnya. Dan juga, kenapa Archer saat ini terlihat sangat tampan di matanya?
Wajah Archer pun semakin dekat dengan wajahnya. Ketika tangan kanannya hendak mendorong Archer menjauh, namun langsung ditahan. Wajah yang semakin dekat. Apa yang akan dilakukan oleh Archer? Dzakira mulai berpikir yang aneh-aneh. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Tetapi, kini wajah Archer telah bergeser ke telinganya. Lalu berbisik, "Karena lo gak punya sopan santun, lo masuk ke kamar gue tanpa izin. Maka lo harus diberi hukuman."
"Archer, jangan dekat-dekat!" Kali ini Dzakira berhasil mendorong Archer menjauh.
Archer bersedekap dada. "Kenapa lo ada di kamar gue? Kenapa lo ada di dalam lemari gue? Lo mau ngintip gue pakai baju?"
Dzakira langsung menggeleng. Untuk mengintip Archer ganti baju? Hai, Dzakira tidak secabul itu. "Ngapain juga gue ngintip lo pakai baju? Lo pikir gue kurang kerjaan apa?!"
"Terus apa alasannya lo ada di sini sekarang?!"
"Gu-gue ..." Dzakira menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Apa dia harus mengatakan yang sejujurnya saja pada Archer? Baiklah, daripada salah paham, dia harus meluruskannya. "Gue mau cari surat kontrak. Biar gue bisa musnahin tuh surat. Habis itu, gue bisa terbebas dari lo! Gue cuma perlu kembaliin uang lo, walaupun nanti bakalan lama. Yang penting, gue gak mau terikat dengan kontrak."
Archer hanya manggut-manggut. Berjalan menuju meja di sebelah lemari, mengambil sisir rambutnya. Dia menyerahkan sisir itu pada Dzakira.
Dzakira tak langsung mengambil sisir dari tangan Archer. Dia mengernyitkan keningnya, tidak mengerti. "Buat apa sisir?"
"Hukuman buat lo!"
"Gue gak ngerti."
"Rapiin rambut gue pakai sisir ini," jelas Archer. "Paham?"
"Lo bercanda?"
Archer menggeleng. "Gue gak bercanda. Cepetan! Atau enggak, gue bakalan kasih hukuman yang berat!"