Motor Archer berhenti di parkiran khusus roda dua. Cewek yang ada di belakangnya turun duluan, melepaskan helm dan menyerahkan padanya. Tak berucap sepatah kata pun Dzakira hendak melangkah pergi, namun dicegatnya. "Mau ke mana lo?"
"Ke kelaslah," jawab Dzakira sambil melepaskan tangannya dari Archer. "Emangnya ke mana lagi?"
"Tungguin gue." Archer membuka helmnya. Turun dari motor dia menaruh dua helm tersebut ke atas motor.
"Iya, gue tungguin, kok."
Archer menyeringai, mendapat ide. Tasnya dia lepas dari kedua bahunya, dia menyodorkan benda berisi buku-buku serta peralatan tulis tersebut pada Dzakira. "Teman, gue butuh bantuan nih."
"Maksud lo apa?" heran Dzakira.
"Tas gue berat nih, bawain bentar. Bahu gue pegal-pegal." Archer beralasan, sesuatu yang tidak berdasarkan fakta.
Dzakira melipat kedua tangannya di atas perut. Matanya memandang wajah Archer. "Kalo gue yang bawa, lo pikir gak berat gitu? Sama aja, ih! Seharusnya nih lo yang bawa tas gue. Gue, kan, cewek. Dan lo itu cowok. Udah pasti tenaga lo lebih besar dari gue."
"Gue kan punya alasannya. Bahu gue pegal-pegal. Gue capek ngendarain motor. Jadi, mohon bantuannya dong, teman." Archer menekankan kata 'teman'.
"Gue bukan ba--"
"Cepetan! Gak ada alasan-alasan!" paksa Archer sambil tersenyum sinis.
"Tau gak?"
Archer menggeleng. "Lo belum kasih tau, mana mungkin gue tau? Bego juga lo, ya!"
"Lo itu nyebelin. Banget!"
"Benarkah?"
Dzakira mengangguk. "Sangat-sangat nyebelin."
"Sekarang nyebelin, tau-tau nanti malah ngangenin." Archer mendekatkan wajahnya ke arah wajah Dzakira. Memandang tepat ke bola mata Dzakira.
Lagi, Archer membuat jantung Dzakira berdebar cepat.
"Apaan sih, lo?!" Dzakira mendorong Archer sedikit menjauh darinya. "Siapa juga yang bakalan kangen sama cowok jahat kayak lo?! Gue gak tertarik sama lo!"
"Serius gak tertarik?" Archer menangkup wajah Dzakira secara tiba-tiba. Masih menatap ke bola mata cewek itu.
Dzakira melepas paksa tangan Archer dari wajahnya. Bisa gila jantungnya jika ditatap seperti itu terus-terusan. Diakuinya, pesona Archer memang mendebarkan.