Teman Kontrak

Wardatul Jannah
Chapter #15

14 - Salah Sangka

Dalam sebuah kafe, tepatnya di sudut kanan. Archer menempati meja di sana. Jari-jemarinya bergerak-gerak di atas papan ketik. Matanya fokus memandang ke layar monitor laptopnya. Dia sedang mengerjakan tugas sekolahnya.

Fattan datang—sebagai pekerja paruh waktu di kafe itu—mengantarkan pesanan Archer. Jus apel yang pasti akan dia habiskan. Lalu cheese cake yang dia yakinkan akan tak tersentuh.

Archer menatap sekilas ke arah Fattan. Jangan harap dia akan menyapa. Memang keduanya teman sebangku, masih di lingkungan sekolah saja tampak asing. Apalagi berada di luar sekolah seperti sekarang.

Archer tak acuh. Ambisinya malam ini sebelum kembali ke rumah adalah menyelesaikan tugas dari sekolahnya itu.

***

Sesekali Dzakira menengadah ke hamparan langit sana. Tidak terlalu banyak bintang malam ini. Jalannya pelan saja di atas trotoar itu, dia menikmatinya. Perlu menempuh sekitar satu kilometer ke tempat tujuannya, yaitu toko peralatan sekolah serta alat tulis. Pensil warna miliknya tak lagi lengkap. Jadi, dia ke sana untuk membeli yang baru.

Jalanan masih ramai akan lalu-lalang kendaraan. Dia mengulas senyum kala kakinya telah berpijak di depan toko tersebut. Masuk ke sana dan memilih merek pensil warna yang dia ingin beli. Dia juga mengambil penggaris, karena miliknya dipatahkan oleh Fatih. Saat hendak membayarnya di kasir, wajahnya berubah datar.

Kasir itu tampak tak asing baginya. Wajah cantik cewek berambut pirang itu, Dzakira mengenalnya. Cewek itu bernama Vania, yang malam itu bersama Archer keluar dari kelab malam. Benar, cewek yang juga menyaksikan dirinya dipermalukan oleh Archer. Cewek yang sempat bermalam dengan Archer. Vania tersenyum ke arahnya. Dia membalasnya kikuk, tak enak juga jika bertahan dengan wajah datar atau tak bersahabat.

Vania memberi tahu Dzakira berapa yang harus dibayar. Setelah Dzakira membayar dia bertanya, "Lo cewek yang malam itu, kan?"

Dzakira mengangguk.

Vania tersenyum lagi. "Ada hal yang enggak lo tau tentang Archer. Lo mau tau?"

Dzakira ragu mengangguk. Jika menjawab iya, dia kelihatan begitu ingin tahu tentang cowok itu. Jika menjawab tidak, sebenarnya dia penasaran.

"Karena lo diam aja, gue putusin kalo lo mau tau." Vania langsung memberi keputusan. "Ini tentang Archer dan seperti apa dia sebenarnya. Lo gak akan nyangka."

"Gue tau dia yang sebenarnya. Dia bukan cowok baik."

Vania menggeleng. "Lo salah."

"Maksud lo?"

Lihat selengkapnya