Sejak motor Archer keluar dari perkarangan rumahnya, Dzakira terus kepikiran dengan perkataan Vania semalam. Duduk di belakang Archer, pandangannya ke arah helm yang dikenakan Archer. Apa benar Archer adalah sosok yang menginginkan ketulusan? Apa benar kalau Archer selama ini kesepian? Apa benar kalau Archer tidak sejahat yang dia pikirkan sebelumnya?
Hati Dzakira bak mulai melunak. Bukan iba. Jujur, ada perasaan ingin mendekat ke arah cowok itu dan memberi ketulusan sejak mengetahui perihal Archer. Apa itu bisa disebut sebagai jalan menuju perasaan lebih?
Bisingnya suara kendaraan lain tak mengganggu Dzakira dan pikirannya. Hingga motor Archer memasuki area sekolah dan berhenti di parkiran. Dia turun dari sana, menyerahkan helm pada Archer, seperti biasa. Tetapi ada juga satu hal yang berbeda. Dzakira berucap, "Makasih." Hatinya telah terbuka.
Archer tidak pernah tidur dengan cewek mana pun. Apa itu bisa menjadi alasan untuknya membiarkan Archer memenuhi pikirannya? Ah, Dzakira pun bingung. Perasaan apa sebenarnya itu? Mengingat debaran dan akhir-akhir ini wajah Archer terbayang-bayang dalam memorinya terus-menerus.
"Gue duluan," ucapnya dan hendak bergegas pergi. Namun, Archer menahannya agar tidak melangkah lebih jauh lagi.
"Tunggu dulu," ucap cowok itu sambil membuka helm dengan tangan satunya lagi.
"Kenapa?"
"Bawa tas gue!"
Dzakira terdiam sesaat. Dia ingat tempo hari ketika Archer juga menyuruhnya untuk membawakan tas cowok itu sampai ke dalam kelas. Dzakira tidak mau lagi. Bagaimana kalau nanti dia malah menjadi bahan gosip teman-teman sekelas Archer?
Tempo hari saja dia sudah menarik perhatian beberapa teman sekelas Archer. Tidak. Hari ini dia tidak akan membiarkan kejadian itu terulang lagi. Dia harus kabur.
"Baiklah, tapi lepasin tangan gue dulu," ujar Dzakira dengan wajah dibuat serius. Setelah Archer melepaskan tangannya, dia tersenyum sinis. "Tapi bohong."
Dzakira pun berlari menjauh dari Archer.
Tentu saja Archer tidak akan membiarkan itu. Dengan cepat larinya mengalahkan Dzakira, dia menarik tangan cewek itu hingga berhenti berlari menjauh darinya. "Lo gak bisa kabur dari gue!"
Dengan wajah kesalnya Dzakira menatap Archer. "Gueh, gak mau bawa tas lo!"
"Gak boleh nolak!"
"Masalahnya gueh males masuk ke kelas lo. Gue gak mauh, ditatap sama teman sekelas lo! Gue gak mau narik perhatian teman sekelas lo! Gueh, gak mau mereka gosipin gue yang enggak-enggak. Lo, paham?" Napas Dzakira agak tidak teratur.
Archer manggut-manggut. Dia menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Baiklah, kalo begitu. Tapi, jangan masuk kelas dulu. Masih punya waktu lima belas menit lagi."
Dzakira berkacak pinggang sambil bertanya, "Mau ke mana?"