Suasana makan malam di rumah Dzakira selalu dilingkupi dengan kehangatan. Walaupun satu sosok, yaitu ayahnya, tak ada lagi di sana. Namun, selalu ada di hati mereka. Mungkin, adu mulut antara Dzakira dan Fatih sudah menjadi hal rutin yang dilihat Linda setiap harinya.
"Bu!" Fatih berucap setelah duluan menghabiskan makan malam. "Ibu, tau gak? Kak Dza, udah tau pacaran, Bu."
Dzakira yang sedang mengunyah makanan mengerlingkan mata ke arah adiknya yang duduk berseberangan dengannya itu. "Eh, Fatih! Bilang apa tadi?"
"Bu, Kak Dza itu udah tau pacaran. Ibu gak marah?" tanya Fatih dengan wajah polosnya.
"Fatih, apaan, sih? Kak Dza enggak pacaran, ya! Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan." Dzakira tidak terima dengan ucapan Fatih.
"Fatih enggak fitnah, Kak Dza. Ini nyata!"
"Fatih jangan mengada-ngada."
"Udah, Dza. Sama anak kecil, pun." Linda menatap ke arah Fatih. "Dan Fatih, jangan ganggu Kak Dza."
"Siap, Bu!" Fatih membuat gesture hormat ke ibunya itu. Dzakira sebal dibuatnya.
Itulah sedikit adu mulut keduanya. Setelah makan malam selesai, Dzakira bertugas mencuci piring. Ketika tak ada lagi yang dia kerjakan, dia memasuki kamarnya. Merebahkan tubuhnya ke kasurnya. Matanya memandang ke langit-langit kamarnya.
Tiba-tiba, sesuatu yang tak diundang hadir dalam pikirannya. Benar, itu Archer. Wajah, senyum, dan diamnya cowok itu. Yang pasti, segala tentang cowok itu. Dan Dzakira masih tidak bisa mengambil kesimpulan apa makna dari itu semua. Kenapa dia terus memikirkan Archer? Apa dia benar-benar mulai menyukai Archer? Ah, dia bingung dengan perasaannya sendiri.
Dzakira mengubah posisinya menjadi terduduk dan bersandar di kepala tempat tidurnya. Tangannya meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Jari jempolnya menyentuh layar ponsel, membuka aplikasi Instagram. Antara sadar atau tidak, dia mengetikkan nama Archer di bagian pencarian. Keluar. Dia mendapatkan satu akun di mana ada foto candid cowok itu sebagai profilnya. Ada sekitar seribuan lebih yang mengikuti cowok itu di sana. Dan yang difollow Archer hanya puluhan, rata-rata akun yang memiliki centang biru dan membahas tentang pelajaran atau ilmu lainnya, seperti NASA.
Akun Archer hanya memiliki tiga foto yang diposting. Pertama ada foto langit senja. Kedua baru foto laki-laki itu, yang latar belakangnya adalah menara Big Ben, London. Ketiga hanya foto bayangan cowok itu yang berdiri di atas jalan kecil beraspal. Tanpa sengaja, jari Dzakira menekan tanda follow.
Gawat! Matanya terbelalak. Dia tidak berniat mengikuti cowok itu. Buru-buru dia membatalkan mengikuti cowok itu.
Sementara itu, Archer juga sedang memegang ponselnya, di kamarnya. Pas sekali dia tengah membuka aplikasi yang sama dengan Dzakira. Dia mengernyitkan keningnya, ketika ada yang mengikutinya. Itu nama Dzakira. Dia tersenyum ketika tahu bahwa cewek itu membatalkan mengikutinya. Langsung saja dia mengirimkan direct message ke akun cewek itu. Dan bertanya kenapa hanya mengikuti Instagramnya beberapa detik saja.
"Bego!" umpat Dzakira sambil memukul pelan kepalanya. Dia ketahuan oleh Archer. Pasalnya kini cowok itu yang mengikutinya, juga sekarang mengirimkan DM untuknya. Dia membalas bahwa tidak kenapa-kenapa. Apakah tidak punya alasan lain? Archer mana percaya jika dia tidak punya sebab. Apakah dia harus mengatakan yang sebenarnya? Kalau dia tidak sengaja. Tetapi, itu sama saja bak memberi tahu Archer bahwa dirinya stalking akun cowok itu.
Jawabannya langsung dilihat oleh Archer. Namun, tidak dibalas lagi. Benar, tidak dibalas melalui Instagram. Dan dibalas melalui cara lain. Archer tiba-tiba meneleponnya. Dzakira mempertimbangkan, antara menjawab sambungan atau tidak. Keputusannya menjawab.