Bel pulang telah berbunyi beberapa detik yang lalu. Biasanya Dzakira akan langsung ke parkiran untuk menemui Archer. Namun, sekarang dia mesti melangkahkan kakinya ke kelas Archer, sesuai keinginan cowok itu. Dia tidak tahu apa tujuan Archer memintanya ke sana.
Dzakira menunggu di luar, hingga kelas Archer menjadi sepi, tinggal Archer seorang.
"Bantuin gue!" pinta Archer ketika Dzakira memasuki kelasnya.
"Bantuin apa?" Dzakira bertanya.
Archer mengambil sapu, menyerahkan benda itu pada Dzakira. Barulah dia menjawab, "Nyapu kelas gue."
"Ngapain juga gue harus nyapu kelas lo?" Dzakira melangkah mundur.
"Besok pagi gue piket. Karena gue males piket besok, ya, gue bersihinnya sekarang aja." Archer menjelaskan tujuannya pada Dzakira. Mendekat dan kembali berusaha menyerahkan sapu itu pada cewek itu.
"Lo gak piket sendiri, kan? Pasti ada teman-teman lain, kan?" Dzakira tak kunjung menerima sapu itu dari tangan Archer.
"Gini, karena gue orang baik, jadi sekalian aja bersihin satu kelas ini. Omong-omong membantu orang lain itu baik."
"Tapi, lo malah nyuruh gue buat nyapu kelas lo."
"Udah, ambil! Hitung-hitung ini termasuk pekerjaan lo. Bantuin teman yang sedang malas." Archer meraih tangan Dzakira, memaksakan cewek itu memegangi sapu.
Dzakira menghela napasnya. Dia melepaskan tasnya dari kedua bahunya, menaruhnya ke atas meja yang paling dekat dengan pintu kelas. Dengan wajah tak senang dia akhirnya berucap, "Baiklah, teman!"
Archer tersenyum menang. Kemudian dia bersandar di daun pintu, dengan tangan yang terlipat di dada. Matanya terus memperhatikan Dzakira.
Dzakira mulai menyapu dari belakang meja paling sudut. Saat sadar diperhatikan oleh Archer, dia jadi gugup. "Ngapain lo natap gue?!" ketusnya.
Archer menggeleng. "Cepetan!"
Sepersekian menit kemudian, Dzakira selesai menyapu kelas Archer. Hari ini memang terasa panas. Keringat membasahi pelipisnya. Dia tersentak ketika Archer mendekat ke arahnya, tiba-tiba mengelap keringatnya dengan tisu.
"Lo nga-ngapain?" Dzakira bertanya dengan terbata-bata.
"Bukannya udah jelas gue ngapain?" balas Archer dengan tangan masih mengelap keringat di pelipis Dzakira.
Dzakira menatap ke arah wajah Archer. Dia jadi deg-degan berada dalam jarak sedekat itu. Pun dengan tatapan serius cowok itu. Ketika pandangannya dengan Archer beradu, sudut bibir cowok itu mengulas senyum tipis. Oh, no! Kenapa senyum tipis itu begitu menawan?