Teman Kontrak

Wardatul Jannah
Chapter #19

18 - Saling Memendam

2 Minggu kemudian.

Archer dan Dzakira jadi semakin dekat. Archer yang awalnya berniat mempermainkan Dzakira hingga kontrak selesai pun melupakan niatnya itu. Bagaimana tidak? Sekarang Archer sadar, kalau dia telah menyukai Dzakira.

Juga dengan Dzakira. Dia sudah tahu perasaannya pada Archer. Dia menyukai cowok itu. Keduanya memiliki perasaan yang sama. Namun, masih saling memendam.

Malam ini, keduanya duduk bersebelahan di atas kap mobilnya Archer yang terparkir di halaman rumah Dzakira. Keduanya makan es krim sambil sesekali menatap bintang-bintang yang menghiasi langit malam sana. Usai es krim habis, keduanya betah dalam diam. Membiarkan angin malam menerpa kulit.

Dzakira menengadah. Tangan kanannya terangkat, lalu telunjuknya mengarah ke salah satu bintang di langit. Sebelah matanya terpejam. Sebelahnya lagi menatap telunjuk itu, seolah-olah jarinya itu dapat menyentuh bintang. Tak disangkanya, tangannya yang terangkat itu tiba-tiba tergenggam oleh tangan yang lain. Dia menoleh ke arah si pelaku. Archer tersenyum ke arahnya. Memang begitulah cowok itu, akhir-akhir ini terus membuatnya jantungan.

"Lo nga-ngapain?"

Archer tertawa kecil mendengar pertanyaan Dzakira. Dia menggiring tangan Dzakira turun. "Lo sering banget terbata-bata kek gitu. Kenapa?"

Dzakira mengedikkan bahunya. Berpura-pura tidak tahu. Atensinya mengarah pada tangannya yang digenggam oleh Archer. Dia berusaha melepaskannya. Gawat! Bagaimana kalau nanti ibunya tidak sengaja keluar dan melihat itu? Atau yang parahnya adalah Fatih. Bagaimana kalau Fatihlah yang melihat itu? Yang ada Dzakira harus menguatkan pendengarannya mendengar ucapan adiknya yang kerap kali membuatnya kesal.

Ternyata tidak semudah itu untuk menjauhkan tangan Archer. "Kenapa lo pegang tangan gue? Gak boleh, ih!"

"Kalo enggak gue pegang, nanti kebawa angin. Nanti hilang." Kali ini Archer tersenyum menggoda.

Nah, itu buktinya. Bagaimana Dzakira tidak terus berdebar-debar cepat jika Archer bersikap seperti itu padanya? Kan dia menyukai cowok itu. Oh, iya. Omong-omong, apakah Archer juga menyukainya? Bukan hanya dia saja, kan, yang memiliki perasaan itu?

"Lo pikir gue seringan daun, apa? Sampai kebawa angin segala," balas Dzakira.

Senyum masih setia terpampang di wajah Archer. "Maybe."

"Kenapa lo dari tadi senyum-senyum terus?" heran Dzakira. Tetapi, jujur saja kalau Dzakira suka senyum itu. Sama sekali tak membosankan meskipun dia melihatnya berkali-kali.

"Karena gue lagi sama lo." Sekarang Archer sudah melepaskan tangan Dzakira.

"Emangnya kenapa kalo lagi sama gue?"

"Karena ... lo itu bisa bikin gue senyum."

Sikap serta ucapan Archer akhir-akhir ini seperti menyakinkan Dzakira kalau bukan hanya dirinya yang memiliki perasaan itu. Apa benar kalau perasaannya terbalas?

"Apaan sih, lo? Gak usah bercanda."

"Gue enggak bercanda, Dza."

Dzakira mengalihkan tatapannya ke arah mata Archer. Sorot teduh Archer membuat tatapan mereka beradu pandang. Dzakira bisa mendapati keseriusan dan ketulusan di sana. Dia jadi gugup. Oleh sebab itu, beralih tatap ke arah lain.

"Kenapa lo jadi gugup?" Archer peka.

Lihat selengkapnya