Menghabiskan jam istirahat bersama Archer bukan lagi sesuatu yang membuat Dzakira kesal atau tidak suka. Dia senang berada di dekat Archer. Walau sesekali Archer tetap membuatnya kesal. Tribune lapangan basket outdoor menjadi tempat langganan mereka ketika jam istirahat. Archer dengan jus apelnya, dan Dzakira dengan jus jeruk.
Hari ini begitu cerah. Namun, duduk di sana tak terasa panas dari matahari yang menyengat. Ada embusan angin dari pepohonan sekitar. Jadi, terasa menenangkan.
"Pulang sekolah ke rumah gue, ya." Setelah lama dalam hening, Archer pun angkat suara.
"Ngapain gue ke rumah lo?" Dzakira heran.
"Masak buat gue."
"Gak mau, ah! Nanti lo malah suruh-suruh gue kayak babu."
"Enggak, kok."
"Kalo gitu, gimana kalo di rumah gue aja?" tawar Dzakira.
Archer menggeleng. "Di rumah lo gak asik. Ada ibu sama adik lo. Gue jadinya gak bebas."
"Nah, kan. Pasti lo mau jadiin gue kayak babu, kan?"
"Bukan gitu!"
"Terus gimana?"
Archer menarik napasnya panjang. "Kalo di rumah lo, gue gak bisa berduaan aja sama lo! Paham?"
Dzakira kehilangan kata-katanya untuk beberapa saat. "Gak mau gue! Nanti ada setan yang ketiga. Apalagi lo itu orangnya iseng."
Archer tertawa kecil mendengar ucapan Dzakira, padahal tidak ada yang lucu sama sekali.
"Kalo di rumah lo, gak apa-apa nih? Gimana kalo adik lo gangguin?"
Benar juga, Fatihlah yang harus dihindari jika Dzakira tidak ingin terus dilontarkan pertanyaan yang aneh-aneh oleh adiknya itu.
"Udah gue putusin. Di rumah gue aja," sambung Archer.
"Okelah, tapi gue harus minta izin dulu sama ibu."
"Gak masalah."