Di kamarnya, Dzakira mondar-mandir. Ponsel tergenggam erat oleh tangannya. Hari sudah malam. Sejak pulang sekolah hingga sekarang, Dzakira berkali-kali menghubungi nomor ponsel Archer. Hanya suara operator yang menjawabnya. Nomor ponsel Archer tak aktif. Dzakira juga mencoba chat Archer via WhatsApp sejak tadi sore. Mengatakan kalau cowok itu salah paham padanya. Sampai sekarang, masih centang satu.
Apa benar Archer sangat marah padanya?
Dzakira ingin meluruskan kesalahpahaman itu. Apakah dia harus datang ke rumah Archer saja? Ah, dia tidak seberani itu. Maka dari itu, apa yang harus dia lakukan?
"Kak Dza!" Seseorang menyelonong masuk ke kamarnya. Benar, itu si Fatih.
"Iya, kenapa?" sahutnya. "Fatih, sekarang jangan gangguin Kak Dza, ya!"
"Fatih cuma mau tanya. Tadi kenapa Kak Dza gak dianterin Bang Archer?" tanya Fatih setelah naik ke kasur Dzakira dan duduk di sana.
Dzakira bingung, tidak tahu harus menjawab apa. Dirasanya, tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada anak kecil itu.
"Kak Dza marahan, ya, sama Bang Archer?" tebak Fatih. Dan itu, benar sekali.
Dzakira mencari alasan yang tidak sebenarnya. Setidaknya menyelamatkannya dari rasa ingin tahu adiknya itu. "Enggak, kok. Tadi, Bang Archer sibuk banget. Fatih bisa ninggalin Kak Dza, gak?"
"Oke. Kak Dza mau telponan, ya, sama Bang Archer?"
Dzakira tersenyum kecut. "Kepo kamu. Ya udah, nonton TV aja sana!"
"Iya, jangan lupa salam buat Bang Archer ganteng." Fatih pun melenggang pergi.
Jika saja bisa, Dzakira akan langsung menyampaikan salam dari Fatih. Tetapi, Archer telah membentangkan jarak dengannya.
***
Kira-kira sudah pukul sepuluh malam. Motor Archer melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya yang sudah tidak terlalu padat itu.