Di lorong-lorong rumah sakit, Archer berlari menuju ruangan di mana Daniar berada. Langkahnya berhenti di depan pintu ruangan, ada Paman Panji bersama istrinya di sana. Lelaki yang umurnya lebih muda lima tahun dari Daniar itu menepuk-nepuk pundaknya, berusaha menenangkannya.
"Kamu harus tegar, ya, Nak." Istri Paman Panji alias bibinya itu, ikut menenangkannya, walau pada akhirnya tak akan bisa mengurangi lara.
Archer memasuki ruangan serba putih itu dengan hati tercabik-cabik. Apalagi tatkala menatap kain putih menutupi seluruh tubuh Daniar. Tangannya gemetar, menyingkap kain itu untuk melihat wajah pucat ibunya. Tubuh ibunya terbujur kaku.
"Mama," lirihnya. Tak mungkin terbalas, Daniar sudah pergi untuk selamanya. Tak bisa ditahan, matanya telah buram dengan air mata. Serapuhnya seorang laki-laki, mereka pasti juga akan menangis. Mereka juga manusia. Dan juga, anak mana yang tidak akan menangis jika ibunya meninggal? Kecuali anak yang keras hatinya.
Itu terlalu tiba-tiba baginya. Tadi, ketika mendapat berita duka itu dari Paman Panji, dia masih kurang percaya. Tapi, setelah melihat semuanya sendiri, dia amat terpukul. Apa itu alasan Daniar mentransfer semua uang untuknya? Seolah-olah punya firasat sendiri.
"Archer, Kamu harus tau. Kalo Mama, sangat-sangat menyayangimu. Kamu satu-satunya yang paling berharga bagi Mama. Mama kerja keras demi kamu. Maaf, kalo selama ini Mama jarang menghabiskan waktu bersamamu. Sekali lagi Mama mau bilang, kalo Mama sangat menyayangimu."
"Maafin Archer, Ma," lirihnya bersama rasa sesak, mengingat apa yang pernah diucapkan oleh ibunya.
Seharusnya malam itu dia mengesampingkan gengsinya, balas mengucap bahwa dia juga sangat menyayangi Daniar. Jika saja dia tahu kalau malam itu adalah pelukan terakhir dari Daniar, dia pasti akan balas memeluk ibunya itu dengan sangat erat. Tapi, sekarang sudah terlambat. Waktu tak bisa diulang. Yang tersisa hanya penyesalan. Sangat-sangat menyesal, bersikap cuek pada Daniar selama ini. Memang begitulah, penyesalan selalu datang belakangan.
Hari ini dia patah hati dua kali. Tadi, karena Dzakira. Sekarang karena Daniar, namun lebih dari kata patah—hancur berkeping-keping hatinya.
Tangannya mencengkeram kain putih itu. Kakinya sudah sangat lemas. Dia berlutut. Tangan gemetarnya sempat menggenggam tangan Daniar.
"Maafin Archer, Ma. Archer juga sayang Mama," lirihnya lagi.
Dirasakannya seseorang menyentuh lembut bahunya, dia mendongak setelah menyeka air matanya, itu Paman Panji.
"Mama kamu mengidap kanker darah stadium akhir. Tadi sore keadaannya memburuk, dia menelpon Paman. Jadi, Paman menjemputnya dan membawanya ke rumah sakit. Katanya, Mamamu tidak bisa menelponmu karena nomormu tidak aktif. Padahal sebelum dia tiada setengah jam yang lalu, dia ingin sekali melihatmu. Kamunya susah dihubungi," jelas Paman Panji sambil memandang sedih mendiang kakaknya. Di sebelahnya, istrinya juga menangis, seperti Archer.