Archer benar-benar kacau malam ini. Rambutnya acak-acakan. Menempati meja bartender dengan tangan memegangi segelas wine. Dia kehilangan kendalinya, sampai memilih jalan salah untuk menenangkan dirinya. Meneguk sekaligus untuk gelas pertama. Meminta lagi pada bartender, agar menambah minuman beralkohol itu ke gelasnya. Ponselnya bergetar, dia tersenyum tawar melihat siapa yang meneleponnya. Itu ayahnya. Tumben sekali, pikirnya.
"Halo, kenapa?" Archer berterus terang. Berita tentang meninggalnya Daniar pasti sudah sampai ke telinga ayahnya itu. Archer menduga, ayahnya pasti tidak akan ke Indonesia, untuk melayat.
"Ayah sudah mendengar kalau mamamu meninggal."
Dugaannya benar, bukan?
"Kamu pasti tinggal sendirian, kan? Urus kepindahanmu, dan tinggal dengan Ayah di Jepang."
Archer tertawa evil mendengar permintaan ayahnya. "Ayah yakin?"
"Atau enggak kamu lulus SMA dulu. Terus kamu kuliah di sini, bagaimana?" tawar ayahnya lagi dari seberang sana. "Di Jepang, kamu akan punya keluarga baru."
"Enggak perlu. Ngapain Archer ke sana? Archer Udah biasa sendirian. Jadi, Ayah enggak usah bersikap seolah-olah peduli." Archer mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Seperti ucapannya, dia memang sudah biasa sendirian. Dia pun yakin, kalau dia tidak akan betah jika tinggal bersama keluarga baru ayahnya di Jepang.
Archer meneguk lagi minumannya. Dia tak acuh pada dirinya, serta pada apa pun saat ini.
***
Archer di bawah pengaruh alkohol, antara sadar dan tidak. Rasa haus menjalar, mengharuskan dia berhenti di depan sebuah swalayan. Hanya untuk membeli air mineral. Dia meneguk setengah, setelahnya dia buang botol itu ke sembarang arah. Tidak tahu kalau mengenai punggung seseorang yang sedang berjalan di dekatnya.
Orang itu marah karena Archer tidak tahu minta maaf. Laki-laki berotot dengan kedua lengan penuh tato itu mendekat ke arah Archer dengan wajah terlihat sangar, setelah memungut botol yang dibuang Archer.
"Hei, anak muda! Kenapa buang sampah ke arah gue? Lo pikir gue tempat sampah?!" hardik preman itu.
Archer malah tertawa, melihat kepala botak preman itu. "Itu bola apa kepala?" ejeknya.
"Dasar remaja gak punya sopan santun!"
Archer telah memancing amarah si preman.