Teman Kontrak

Wardatul Jannah
Chapter #26

25 - Ungkapan

Lega. Itulah yang dirasakan Dzakira saat ini. Upacara hari Senin sedang berlangsung. Dia menemukan kehadiran Archer di barisan kelas cowok itu. Meskipun berdiri di barisan paling belakang, tubuh jangkung Archer tampak menonjol. Sehingga mudah ditemukan Dzakira.

Petugas upacara membaca undang-undang, atensi Dzakira malah berlari ke arah Archer. Saat itulah dia dan Archer bertemu pandang. Secepat mungkin dia mengalihkan atensinya. Hingga upacara hampir selesai, jujur dia tetap sesekali melirik Archer. Walaupun cowok itu tidak balik melirik ke arahnya lagi.

Pemimpin upacara membubarkan barisan, telah selesai kegiatan rutin di setiap pagi Senin itu. Di tengah hamburan siswa-siswi yang menuju kelas, Dzakira berlari kecil ke tempat barisan kelas Archer tadi. Mendapati cowok itu yang berjalan membelakanginya, dia berteriak memanggil nama Archer. "Archer!"

Dzakira memotong jarak, berhasil menghentikan jalannya Archer dan berdiri di depan cowok itu. Dia kedapatan agak ngos-ngosan. Usai napasnya teratur, barulah dia mengatakan tujuannya mengadang jalan Archer. "Archer, lo salah paham sama gue."

Tanpa ekspresi, Archer menatapnya. Kemudian membalas dengan dingin, "Salah paham? Gue jelas-jelas dengerin itu dari mulut lo. Dan, udah cukup! Lo enggak perlu jelasin apa pun lagi ke gue!"

"Archer, gue tau lo kecewa sama gue. Tapi, lo salah! Kalo lo mau denger yang sebenarnya, temuin gue di tribune biasa. Gue bakalan jelasin."

"Enggak ada yang perlu lo jelasin lagi!"

"Kenapa enggak? Gue serius! Gue tunggu lo nanti pas jam istirahat." Dzakira menyunggingkan senyumnya, meski tak terbalas. "Gue ke kelas dulu. Sampai jumpa."

Dzakira melambaikan tangan dengan wajah riang, berniat agar itu tertular pada Archer. Mengabaikan balasan yang dia dapat. Cowok itu malah bungkam di tempat sambil menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Dzakira pun berlalu.

***

Dua potong roti telah dilahap Dzakira. Sebotol air mineral tinggal setengah, ditenggaknya. Seperti ucapannya, dia sungguh menunggu Archer di tribune biasa meraka duduk. Namun, hampir sepuluh menit dia di sana, Archer tak juga datang. Penuh harap, dia ingin melihat cowok itu duduk di sebelahnya sekarang.

"Archer, lo di mana sih?" gerutunya sambil mengedarkan pandangan.

Lihat selengkapnya