Archer menutup laptopnya, kemudian memasukkan benda itu ke dalam tas. Tugas sekolahnya sudah kelar. Kafe di mana Fattan kerja menjadi pilihannya malam ini. Jujur saja, tempatnya nyaman dan tenang untuk mengerjakan tugas. Seperti biasa, Archer kurang lengkap tanpa jus apel. Sementara itu, pandangannya sesekali ke arah Fattan yang berlalu-lalang, mengantar pesanan ke meja-meja.
Ketika amatannya bergeser ke meja di depannya, mata berkaca-kaca Dzakira tadi di sekolah, mengambil seluruh tempat dalam pikirannya. Alih-alih melupakan Dzakira, justru menjadi gagal. Mengingat ucapan cewek itu yang menyentuh hatinya.
Gelas berisi jus itu telah kosong. Tas yang dia taruh di kursi sebelah diambilnya dan disampirkan ke bahu kanannya. Berjalan ke kasir, hendak membayar. Menjadi bingung ketika sang kasir mengatakan bahwa sudah ada yang membayar miliknya.
"Siapa?" tanyanya.
Kasir itu menunjuk ke sebelahnya, itu Fattan yang tiba-tiba ada di sampingnya.
"Kenapa?" tanyanya bingung pada Fattan. "Gak usah repot-repot, gue bisa bayar sendiri."
"Rezeki gak baik ditolak," balas Fattan. "Kita teman sebangku, tapi enggak akrab. Bahkan enggak saling sapa."
"Lo mau akrab sama gue? Dengan cara begini? Sebenarnya lo gak perlu kayak gini, gue punya duit buat bayar sendiri!" ketusnya.
Fattan menggeleng.
"Biar gue bayar sendiri!" ulang Archer. Dia memang segan dibegitukan, sadar kalau dia punya banyak uang.
"Gue ikhlas, kok." Fattan tersenyum tulus. "Gue tau lo kaya. Lo punya banyak duit. Tapi, ketulusan dan keikhlasan itu enggak bisa dibeli."
Fattan menepuk-nepuk bahu Archer beberapa kali. "Sampai ketemu di sekolah, teman sebangku." Begitulah Fattan mengakhirinya, dia kembali pada pekerjaannya.
Sedangkan Archer, dia terbungkam di pijakannya. Dia menoleh, menatap perginya Fattan. Dia menyadari satu hal karena itu. Tak lama, Archer tersenyum tipis. Akhirnya, dia mendapatkan seorang teman yang sesungguhnya. Seorang teman yang tulus.
***
Jalannya Dzakira terhenti di teras rumahnya. Tepatnya ketika mendapati orang yang disukanya, bersama motor lengkap dengan seragam sekolah, ada di halaman rumahnya. Untuk memastikan bahwa dia tidak mungkin salah lihat, dia mengucek matanya. Bukan ilusi, itu nyata. Itu Archer. Menjemputnya untuk sekolah bersama? Archer sudah memaafkannya?
Dia deg-degan, karena Archer terus menatapnya dengan tatapan teduh. Dia mendekat. Karena heran, dia pun bertanya.
"Archer, udah enggak marah?"
Sambil menyerahkan helm pada Dzakira, Archer menjawab, "Udah enggak punya alasan buat marah sama lo."
Kini senyum manis lolos dari bibirnya Dzakira. Dengan wajah riangnya dia meraih helm itu. Segera memasangkan benda pengaman kepala itu di kepalanya. "Makasih Archer!" serunya antusias.
Archer mengangguk, balas tersenyum. Semalam memikirkan itu, dia memutuskan untuk memperbaiki hubungannya dengan Dzakira. Ditambah tahu kalau perasaannya terbalas, dia amat senang. Dan pagi ini begitu semangat menjemput cewek yang telah menempati hatinya.
Dzakira duduk di belakang Archer. Kendaraan roda dua itu tidak langsung melaju. Karena seseorang menginterupsi.
"Cie..." Ada Fatih di teras. "Kak Dza dijemput lagi sama Bang Archer."