Teman Sebangku, Cinta Pertamaku

Agung Supriadi
Chapter #1

BAB 1 — TEMAN SEBANGKU YANG TIDAK KUINGINKAN

Kirana Adisty percaya bahwa kehidupan sekolah akan jauh lebih menyenangkan jika semua orang tahu bagaimana caranya menjaga ketenangan.

Datang tepat waktu.

Mengerjakan tugas sesuai jadwal.

Mencatat pelajaran dengan rapi.

Tidak berbicara ketika guru sedang menjelaskan.

Dan yang paling penting, tidak mengganggu orang lain yang sedang belajar.

Bagi sebagian siswa, aturan seperti itu mungkin terdengar terlalu serius. Namun bagi Kirana, semua itu adalah bagian dari kebiasaan yang membuat hidupnya terasa lebih teratur.

Pagi itu, seperti biasa, Kirana datang ke sekolah beberapa menit sebelum bel pertama berbunyi.

Ia berjalan menuju kelas XI dengan tas yang tergantung rapi di bahunya. Setelah sampai di depan kelas, ia masuk dan langsung menuju tempat duduknya.

Bangku di baris kedua dari depan.

Tempat favoritnya.

Dari sana, ia bisa melihat papan tulis dengan jelas tanpa harus duduk terlalu dekat dengan meja guru.

Kirana meletakkan tas di samping kursi, kemudian mengeluarkan buku pelajaran yang akan digunakan pada jam pertama.

Ia membuka halaman yang sudah diberi penanda.

Semuanya sempurna.

Sampai sebuah suara terdengar dari belakang.

"Kirana!"

Kirana memejamkan mata.

Ia bahkan tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang memanggilnya.

Dimas Alvaro.

"Kirana!"

Kali ini suara itu terdengar lebih dekat.

Kirana akhirnya menoleh.

Dimas berdiri di samping mejanya sambil membawa sebuah buku yang entah sejak kapan menjadi miliknya.

"Apa?" tanya Kirana.

Dimas tersenyum santai.

"Punya pulpen?"

Kirana menatap tangan Dimas.

"Kamu punya dua tangan."

Dimas tertawa.

"Maksudku pulpen."

"Aku tahu."

"Berarti punya?"

Kirana menarik napas panjang.

"Kenapa nggak bawa sendiri?"

"Tadi lupa."

"Setiap hari lupa."

"Berarti kamu sudah hafal."

Kirana langsung mengambil satu pulpen dari tempat pensilnya dan menyerahkannya.

"Nih. Balikin."

Dimas menerimanya.

"Terima kasih."

"Jangan hilang."

"Tenang."

Dimas kembali ke tempat duduknya.

Kirana menggeleng.

Beginilah Dimas.

Santai.

Terlalu santai.

Ia seperti tidak pernah punya masalah dengan apa pun.

Ketika guru memberikan tugas, Dimas mengerjakannya menjelang batas waktu.

Ketika ada ulangan, ia baru belajar malam sebelumnya.

Ketika Kirana sedang membaca, Dimas bisa tiba-tiba bertanya hal-hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan pelajaran.

Entah bagaimana siswa seperti itu bisa tetap mendapatkan nilai yang cukup baik.

Kirana tidak pernah mengerti.

Namun selama tempat duduk mereka berjauhan, Kirana masih bisa bertahan.

Setidaknya sampai pagi itu.


Bel masuk berbunyi.

Siswa-siswa yang masih berada di luar kelas bergegas masuk.

Guru wali kelas mereka, Bu Rani, berjalan masuk sambil membawa beberapa lembar kertas.

Kirana langsung duduk tegak.

Dimas yang baru saja masuk beberapa detik sebelumnya malah duduk santai sambil menguap.

Bu Rani berdiri di depan kelas.

"Sebelum pelajaran dimulai, Ibu punya pengumuman."

Suasana kelas perlahan tenang.

Kirana memperhatikan gurunya.

"Mulai minggu ini, tempat duduk kalian akan diubah."

Suasana kelas langsung berubah.

Beberapa siswa bersorak.

Sebagian lainnya langsung mengeluh.

Kirana mengernyit.

Ia tidak menyukai perubahan mendadak.

Bu Rani kemudian mengangkat selembar kertas.

"Ibu sudah menentukan pasangan tempat duduk. Jadi tidak ada protes."

Beberapa siswa langsung tertawa.

Kirana mulai merasa tidak nyaman.

Tempat duduknya sekarang sangat nyaman.

Ia tidak ingin berpindah.

Namun tentu saja ia tidak bisa menolak keputusan guru.

Bu Rani mulai membacakan nama.

Satu demi satu siswa mendapatkan tempat baru.

Kirana masih menunggu.

Sampai akhirnya namanya disebut.

"Kirana Adisty."

Kirana mengangkat kepala.

"Kamu pindah ke bangku baris ketiga."

Ia mengangguk.

Tidak masalah.

Baris ketiga masih cukup dekat dengan papan tulis.

Kemudian Bu Rani melanjutkan.

"Teman sebangkunya..."

Kirana menunggu.

"Dimas Alvaro."

Kirana membeku.

Suasana kelas seolah berhenti beberapa detik.

Kemudian suara tawa terdengar dari beberapa sudut.

Kirana perlahan menoleh ke arah Dimas.

Dimas juga sedang menatapnya.

Bukannya terlihat kecewa, laki-laki itu justru tersenyum lebar.

"Wah."

Kirana langsung tahu bahwa hidupnya akan menjadi lebih sulit.

Dimas berdiri sambil membawa tasnya.

"Bu, boleh tukar?"

Bu Rani menatapnya.

"Kenapa?"

"Saya takut Kirana nggak kuat."

Seketika kelas tertawa.

Kirana menatap Dimas tajam.

"Yang nggak kuat itu saya, bukan dia."

Dimas menunjuk dirinya sendiri.

Lihat selengkapnya