Hari kedua menjadi teman sebangku Dimas dimulai dengan satu harapan sederhana dari Kirana.
Semoga hari ini dia tidak banyak bicara.
Kirana bahkan sudah menyiapkan semuanya sejak pagi.
Buku pelajaran sudah dimasukkan ke dalam tas sesuai jadwal. Alat tulis sudah lengkap. Tugas yang harus dikumpulkan juga sudah diperiksa dua kali.
Ia bahkan membawa satu pulpen cadangan.
Bukan karena ia membutuhkan dua pulpen.
Tetapi karena pengalaman kemarin mengajarinya bahwa duduk di sebelah Dimas berarti harus selalu siap menghadapi kemungkinan kehilangan alat tulis.
Begitu sampai di kelas, Kirana langsung duduk.
Ia membuka buku dan mulai membaca materi pelajaran sebelum bel masuk.
Salsa yang duduk tidak jauh darinya menghampiri.
"Rajin banget pagi-pagi."
Kirana tidak mengalihkan pandangan dari buku.
"Aku mau belajar."
"Atau menghindari seseorang?"
Kirana menutup bukunya perlahan.
"Salsa."
Salsa tertawa.
"Aku cuma bercanda."
Kirana menghela napas.
Ia kemudian kembali membaca.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara kursi ditarik.
Dimas datang.
"Selamat pagi."
Kirana diam.
Dimas duduk di sebelahnya.
"Pagi, Kirana."
Kirana tetap membaca.
"Kamu nggak mau jawab?"
"Pagi."
Dimas tersenyum.
"Nah, gitu."
Kirana mulai merasa bahwa harapannya untuk menjalani pagi dengan tenang sudah gagal.
Dimas membuka tas.
Kemudian ia mengeluarkan buku.
Ia membuka halaman kosong.
Lalu menatap Kirana.
"Kir."
Kirana masih membaca.
"Kir."
"Apa?"
"Punya pensil?"
Kirana menatapnya.
"Kamu kemarin pinjam pulpen."
"Iya."
"Terus?"
"Pulpenmu masih ada."
"Bagus."
"Tapi sekarang aku butuh pensil."
Kirana memandang meja Dimas.
Tidak ada satu pun alat tulis.
"Kamu benar-benar nggak bawa?"
Dimas menggeleng.
Kirana mengeluarkan sebuah pensil dari tempat pensilnya.
"Nih."
Dimas menerimanya.
"Terima kasih."
Kirana kembali membaca.
Lima menit berlalu.
"Kir."
Kirana menarik napas panjang.
"Apa lagi?"
"Punya penghapus?"
Kirana memejamkan mata.
"Pensil saja belum cukup?"
"Penghapus beda fungsi."
Kirana menatap Dimas dengan kesal.
"Kamu itu kalau sekolah sebenarnya bawa apa?"
Dimas membuka tasnya dan memeriksa isinya.
"Buku."
"Selain buku?"
"Botol minum."
"Alat tulis?"
Dimas terdiam.
"Nggak ada."
Kirana menggeleng.
Ia mengambil penghapus dan menyerahkannya.
"Nih."
Dimas tersenyum.
"Kamu baik."
"Aku cuma nggak mau kamu mengganggu aku terus."
"Berarti kamu tetap baik."
Kirana memilih diam.
Ia tahu melanjutkan percakapan hanya akan membuatnya semakin kesal.
Pelajaran pertama dimulai.
Bu Rani menjelaskan materi di depan kelas.
Kirana mencatat dengan serius.
Dimas juga terlihat memperhatikan.
Untuk beberapa menit, semuanya berjalan normal.
Kirana mulai merasa lega.
Mungkin hari ini Dimas memang akan lebih tenang.
Namun lima belas menit kemudian, sebuah kertas kecil didorong perlahan ke arah bukunya.
Kirana menoleh.
Dimas pura-pura memperhatikan papan tulis.
Kirana membuka kertas tersebut.
Di sana tertulis:
"Aku lapar."
Kirana menatap Dimas.
Dimas masih pura-pura serius.
Kirana menulis di bawahnya:
"Terus?"
Kertas itu kembali ke Dimas.
Beberapa detik kemudian kembali lagi.
"Punya makanan?"
Kirana hampir tertawa karena tidak percaya.
Ia menulis:
"Ini jam pelajaran."
Dimas membalas:
"Aku tahu."
Kirana mengembalikan kertas itu.
"Jadi?"
Dimas menulis:
"Berarti nanti pas istirahat."
Kirana menggeleng.
Ia meremas kertas itu dan memasukkannya ke dalam tempat pensil.
Dimas menahan tawa.
Kirana kembali memperhatikan papan tulis.
Namun beberapa menit kemudian, Dimas berbisik.
"Kir."
"Apa?"
"Jam berapa sekarang?"