Teman Sebangku, Cinta Pertamaku

Agung Supriadi
Chapter #3

BAB 3 — TERNYATA KAMU TIDAK SEBODOH ITU

Pagi itu, Kirana datang ke sekolah dengan perasaan yang jauh lebih tenang dibandingkan dua hari sebelumnya.

Ia sudah mulai terbiasa dengan tempat duduk barunya.

Atau setidaknya, ia sedang berusaha membiasakan diri.

Bangku di baris ketiga yang awalnya terasa seperti hukuman sekarang tidak lagi terlalu mengganggunya. Ia sudah tahu di mana harus meletakkan buku, tempat menyimpan tempat pensil, dan bagian meja mana yang biasanya digunakan Dimas untuk menaruh barang-barangnya.

Satu hal yang belum berubah adalah kebiasaan Dimas.

Laki-laki itu tetap datang tanpa persiapan.

Ketika Kirana baru saja membuka buku, Dimas muncul di sampingnya sambil membawa tas yang hanya berisi beberapa buku.

"Pagi, Kir."

Kirana menoleh sebentar.

"Pagi."

Dimas tersenyum.

"Kamu sudah sarapan?"

"Sudah."

"Apa?"

"Nasi."

Dimas mengernyit.

"Nasi apa?"

Kirana menatapnya bingung.

"Memangnya kenapa?"

"Enggak. Aku cuma penasaran."

"Kamu kalau penasaran sama sesuatu memang harus ditanyakan?"

"Iya."

Kirana menghela napas.

"Kamu sudah sarapan?"

"Belum."

Kirana mengangkat alis.

"Terus kenapa tanya aku?"

"Karena aku mau tahu apakah ada yang bawa makanan."

Kirana menahan senyum.

"Kamu memang aneh."

Dimas duduk.

"Tapi kamu sudah mulai terbiasa."

Kirana langsung menatapnya.

"Jangan percaya diri."

Dimas tertawa.

Kirana kembali membuka bukunya.

Ia tidak menyadari bahwa kali ini ia tidak benar-benar merasa terganggu.


Bel masuk berbunyi.

Beberapa saat kemudian, Bu Rani masuk ke kelas sambil membawa beberapa lembar kertas.

"Anak-anak, hari ini Ibu punya tugas."

Suasana kelas langsung berubah.

Beberapa siswa mengeluh.

Kirana justru menyiapkan alat tulis.

"Tugasnya kelompok," lanjut Bu Rani.

Dimas yang sejak tadi bersandar di kursi langsung duduk tegak.

"Kok kelompok?"

Fajar yang duduk beberapa meja di belakang langsung tertawa.

"Kenapa? Takut kerja?"

Dimas menoleh.

"Bukan takut."

"Terus?"

"Takut dapat anggota yang nggak bisa diajak kerja sama."

Fajar menunjuk dirinya sendiri.

"Tenang. Aku bisa."

Dimas menggeleng.

"Justru kamu yang aku takutkan."

Kelas kembali ramai.

Bu Rani mengetuk meja.

"Tenang dulu."

Semua siswa akhirnya diam.

"Ibu sudah menentukan kelompok. Setiap kelompok terdiri dari empat orang."

Kirana mendengarkan dengan serius.

Ia berharap mendapatkan teman yang bisa bekerja sama dengan baik.

Bu Rani mulai menyebutkan nama-nama.

Kirana masuk kelompok tiga.

Salsa juga masuk kelompok yang sama.

Kemudian dua nama lainnya disebut.

Dimas Alvaro.

Dan seorang siswa bernama Rafi.

Kirana menatap meja.

Tentu saja.

Dari sekian banyak siswa di kelas, ia kembali harus satu kelompok dengan Dimas.

Dimas menoleh ke arahnya.

"Kita satu kelompok."

Kirana menjawab datar.

"Aku dengar."

"Berarti kita memang cocok."

"Kamu jangan mulai."

Dimas tertawa.


Setelah pembagian kelompok selesai, Bu Rani menjelaskan tugas mereka.

Setiap kelompok harus membuat presentasi mengenai sebuah tema yang berkaitan dengan perkembangan teknologi dan kehidupan remaja.

Mereka harus mencari informasi, menyusun materi, membuat presentasi, kemudian mempresentasikannya di depan kelas minggu berikutnya.

Kirana langsung membuka buku catatan.

"Besok kita mulai kumpulkan bahan."

Dimas mengangguk.

"Oke."

"Kita bagi tugas sekarang."

Salsa mengambil pulpen.

"Setuju."

Rafi juga mendekat.

Kirana membagi pekerjaan berdasarkan kemampuan masing-masing.

Ia mengambil bagian penyusunan materi utama.

Salsa bertugas mencari contoh.

Rafi bertugas mencari data pendukung.

Kemudian tersisa bagian desain presentasi.

Kirana menatap Dimas.

"Kalau kamu bagian desain."

Dimas mengangguk.

"Boleh."

Kirana sempat terkejut.

Ia mengira Dimas akan menolak.

"Serius?"

Dimas mengernyit.

"Kenapa?"

"Aku kira kamu akan memilih bagian yang paling mudah."

Dimas tersenyum.

"Desain memang paling mudah buatku."

Kirana tidak menjawab.

Ia masih belum yakin.

Baginya, Dimas adalah orang yang terlalu santai untuk mengerjakan tugas dengan serius.


Sore harinya, kelompok mereka berkumpul di perpustakaan sekolah.

Kirana membawa laptop.

Salsa membawa beberapa buku.

Rafi sudah menyiapkan catatan.

Dimas datang paling terakhir.

"Maaf."

Kirana melihat jam.

"Kamu terlambat dua puluh menit."

"Iya."

"Kenapa?"

"Ban sepeda bocor."

Lihat selengkapnya