Hari-hari berikutnya berjalan lebih cepat dari yang Kirana bayangkan.
Setelah tugas kelompok selesai, kehidupan sekolah kembali seperti biasa. Pelajaran, tugas, ulangan, jam istirahat, dan kegiatan kelas menjadi rutinitas yang terus berulang.
Namun ada satu hal yang berubah.
Kirana mulai terbiasa duduk di sebelah Dimas.
Awalnya ia tidak pernah membayangkan hal itu akan terjadi.
Beberapa hari sebelumnya, ia bahkan berharap Bu Rani segera mengubah susunan tempat duduk mereka. Ia merasa keberadaan Dimas akan mengganggu konsentrasinya setiap hari.
Ternyata tidak.
Dimas memang masih suka berbicara.
Masih suka bercanda.
Masih sering bertanya hal-hal aneh.
Namun sekarang Kirana sudah tahu cara menghadapinya.
Jika Dimas mulai mengganggu, ia cukup menatapnya.
Jika Dimas terlalu banyak bicara, ia tinggal mengatakan, "Diam."
Dan anehnya, Dimas selalu menurut.
Tidak lama.
Biasanya hanya beberapa menit.
Tetapi setidaknya ia menurut.
Pagi itu, Kirana sedang menyusun buku di atas meja ketika Dimas datang.
"Pagi."
"Pagi."
Dimas duduk di sebelahnya.
Ia tidak langsung berbicara.
Kirana sempat melirik.
Dimas mengeluarkan buku pelajaran, tempat pensil, dan sebuah botol minum.
Kirana memperhatikan.
"Kamu sekarang bawa alat tulis sendiri."
Dimas tersenyum.
"Belajar dari pengalaman."
"Bagus."
"Berarti aku berkembang."
Kirana mengangguk kecil.
Dimas kemudian mengeluarkan selembar kertas.
"Ini."
Kirana melihatnya.
"Apa?"
"Catatan tugas."
Kirana mengambilnya.
Ternyata Dimas sudah menuliskan daftar tugas yang harus dikumpulkan minggu itu.
Kirana sedikit terkejut.
"Kamu bikin sendiri?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Supaya nggak lupa."
Kirana tersenyum tipis.
"Bagus."
Dimas menatapnya.
"Kenapa kamu senyum?"
"Aku nggak senyum."
"Tadi senyum."
"Nggak."
Dimas tertawa.
Kirana kembali membuka buku.
Percakapan sederhana itu mungkin tidak berarti apa-apa.
Namun bagi mereka, ada sesuatu yang perlahan berubah.
Mereka mulai memahami kebiasaan masing-masing.
Kirana tahu bahwa Dimas selalu membeli air mineral sebelum pelajaran pertama.
Dimas tahu bahwa Kirana tidak suka suara berisik ketika sedang membaca.
Kirana tahu bahwa Dimas lebih mudah memahami pelajaran jika dijelaskan menggunakan contoh sederhana.
Dimas tahu bahwa Kirana selalu memeriksa kembali tugas sebelum dikumpulkan.
Kirana tahu bahwa Dimas suka menggambar ketika sedang bosan.
Dimas tahu bahwa Kirana selalu membawa permen di dalam tas meskipun jarang memakannya.
Kebiasaan-kebiasaan kecil itu muncul tanpa mereka sengaja.
Tidak pernah ada pembicaraan khusus.
Tidak pernah ada kesepakatan.
Mereka hanya mulai memperhatikan.
Suatu hari, saat pelajaran berlangsung, Dimas tiba-tiba melihat Kirana mengeluarkan permen dari tas.
Ia memperhatikan ketika Kirana membuka bungkusnya.
"Kir."
Kirana menoleh.
"Apa?"
"Permen."
"Kenapa?"
"Punya satu?"
Kirana memberikan satu.
Dimas menerimanya.
"Terima kasih."
Beberapa menit kemudian, Dimas mengeluarkan permen yang sama dari sakunya.
Kirana menatapnya.
"Kamu punya?"
"Iya."
"Terus kenapa minta?"
Dimas tersenyum.
"Yang punyamu lebih enak."
Kirana menggeleng.
"Kamu aneh."
Dimas tertawa pelan.
Namun tanpa mereka sadari, kebiasaan kecil seperti itu membuat jarak di antara mereka semakin dekat.
Pada suatu Senin pagi, Kirana datang ke kelas seperti biasa.
Ia meletakkan tas di kursinya.
Kemudian ia duduk.
Namun setelah beberapa menit, ia baru menyadari sesuatu.
Kursi di sebelahnya kosong.
Kirana melihat jam.
Bel masuk belum berbunyi.
Mungkin Dimas terlambat.
Ia membuka buku dan mulai membaca.
Lima menit berlalu.
Dimas belum datang.
Kirana kembali melihat pintu kelas.
Tidak ada.
Ia mencoba kembali membaca.
Namun konsentrasinya sedikit terganggu.
Sepuluh menit.
Dimas masih belum muncul.
Salsa yang duduk di dekatnya memperhatikan.