Teman Sebangku, Cinta Pertamaku

Agung Supriadi
Chapter #5

BAB 5 — PULANG BERSAMA

Bel pulang berbunyi ketika langit di luar kelas sudah berubah menjadi abu-abu gelap.

Kirana menutup buku pelajarannya dan memasukkannya ke dalam tas. Ia sempat melihat ke arah jendela.

Awan tebal memenuhi langit.

Sejak siang, udara memang terasa lebih dingin dari biasanya. Angin beberapa kali berembus cukup kencang, membuat pepohonan di halaman sekolah bergerak tanpa henti.

Kirana berdiri dan merapikan meja.

Salsa sudah lebih dulu pergi karena ada urusan.

"Kir, aku duluan, ya!"

"Iya. Hati-hati."

Salsa melambaikan tangan sebelum keluar kelas.

Kirana kembali memasukkan tempat pensil ke dalam tas.

Dimas masih duduk di sebelahnya.

"Kamu belum pulang?"

"Nunggu hujan."

Kirana menatapnya.

"Memangnya sudah hujan?"

Seolah menjawab pertanyaan itu, suara gemuruh terdengar dari kejauhan.

Beberapa detik kemudian, hujan turun.

Deras.

Air langsung membasahi halaman sekolah dan membuat suara riuh di sepanjang koridor.

Kirana berdiri di dekat pintu kelas.

Ia menatap hujan dengan wajah cemas.

Dimas berdiri di sampingnya.

"Kenapa?"

Kirana menghela napas.

"Aku nggak bawa payung."

Dimas melihat ke arah halaman.

"Jemputan?"

"Nggak ada."

"Naik kendaraan umum?"

Kirana menggeleng.

"Biasanya jalan sampai halte."

Dimas mengangguk.

"Kalau hujan begini?"

"Nunggu reda."

Mereka terdiam.

Hujan justru semakin deras.

Kirana melihat jam di dinding.

Kalau menunggu sampai hujan benar-benar berhenti, mungkin ia akan pulang terlalu sore.

Ia membuka ponsel dan mencoba melihat keadaan di luar.

Tidak ada perubahan.

Hujan masih turun dengan deras.

Dimas tiba-tiba berkata, "Aku antar."

Kirana langsung menoleh.

"Nggak usah."

"Kenapa?"

"Rumahku beda arah."

"Aku tahu."

"Kamu juga bisa kehujanan."

Dimas mengangkat bahu.

"Aku bawa payung."

Kirana melihat tas Dimas.

"Kamu bawa payung?"

Dimas mengeluarkan payung lipat dari sisi tasnya.

Kirana terdiam.

"Ternyata kamu siap juga."

Dimas tersenyum.

"Jangan meremehkan."

"Aku bukan meremehkan."

"Terus?"

"Kaget."

Dimas tertawa.

"Jadi mau?"

Kirana kembali melihat hujan.

Ia sebenarnya tidak ingin merepotkan Dimas.

"Kamu nggak perlu."

"Ini bukan masalah."

"Tapi—"

"Kalau kamu tetap nunggu, bisa sampai sore."

Kirana diam.

Dimas membuka payungnya.

"Ayo."

Kirana masih ragu.

Namun setelah beberapa detik, akhirnya ia mengangguk.

"Baiklah."


Mereka berjalan keluar dari gedung sekolah.

Dimas memegang payung.

Kirana berjalan di sebelahnya.

Payung itu cukup besar untuk mereka berdua, tetapi mereka tetap harus berjalan cukup dekat agar tidak terkena hujan.

Kirana sedikit canggung.

Selama ini mereka memang sering duduk bersama.

Sering mengobrol.

Sering mengerjakan tugas.

Tetapi berjalan berdua di bawah satu payung terasa berbeda.

"Kamu diam banget," kata Dimas.

"Aku sedang mikir."

"Mikir apa?"

"Jangan tanya."

Dimas tertawa.

"Oke."

Mereka berjalan melewati gerbang sekolah.

Jalanan di depan sekolah sudah dipenuhi genangan air.

Beberapa kendaraan melintas dengan hati-hati.

Dimas menggeser payung sedikit ke arah Kirana.

Kirana menyadarinya.

"Kamu kehujanan."

"Nggak."

"Bahu kamu kena air."

Dimas melihat bahunya.

"Sedikit."

"Payungnya di tengah saja."

"Nanti kamu yang kena."

Kirana terdiam.

Dimas tidak mengatakan apa-apa lagi.

Mereka kembali berjalan.


Setelah beberapa menit, Kirana akhirnya membuka percakapan.

"Kamu sering pulang sendiri?"

"Iya."

"Kenapa nggak dijemput?"

"Kadang dijemput. Kadang nggak."

"Oh."

Dimas menatap jalan.

"Orang rumah sibuk."

Kirana mengangguk.

Lihat selengkapnya